- www.railwaygazette.com
VIVA.co.id - Tak sulit mencari tempat di mana menaiki bus atau kereta api di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Begitu keluar dari pemeriksaan imigrasi dan barang bawaan, sejumlah penunjuk jalan terpampang di langit-langit bandara yang lebih terlihat seperti pusat perbelanjaan itu.
Ada beberapa pilihan kendaraan masal, mulai dari mobil rental, taksi, bus, kereta api atau mobil pribadi. Jika hendak naik kereta api menuju Kota Kuala Lumpur yang berjarak 57 kilometer dari bandara, Anda tinggal jalan kaki sebentar dari pintu keluar imigrasi, kira-kira 10 menit kemudian akan menemukan pintu masuk stasiun kereta.
Ada dua pilihan kereta, KLIA Transit dan KLIA Express. Sesuai namanya, KLIA Transit akan berhenti di beberapa stasiun sampai terakhir di KL Central, sementara yang satu lagi langsung menuju KL Central.
Namun saya memilih naik bus umum. Terminal bus terletak di lantai dasar bandara, sehingga saya harus menyeret koper turun dua lantai melalui eskalator. Terlihat beberapa bus besar sudah menanti penumpang. Ada sejumlah jurusan yang dituju bus-bus ini. Saya membeli tiket yang menuju KL Central.
Saya memilih naik bus berdasarkan saran seorang rekan jurnalis di Kuala Lumpur. “Lebih murah,” katanya. Jika naik KLIA Express, saya harus merogoh kocek 35 ringgit. Sementara dengan bus, saya cukup mengeluarkan 11 ringgit. Namun semua ada harga.
Dengan KLIA Express, dalam waktu 28 menit, Anda akan tiba di Stasiun KL Central. Sementara dengan bus, butuh waktu satu jam. Saya pilih yang kedua karena tidak ada yang perlu saya kejar di Ibu Kota Malaysia itu.
Di dalam bus yang tak kalah nyaman dengan bus Damri Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, saya duduk di sebelah seorang bapak-bapak bertampang Melayu.
“Awak dari Indonesia?” si bapak bertanya. Saya mengiyakan. Si bapak bernama Ismail ini ternyata sering bolak-balik Kuala Lumpur-Bandung, terima kasih pada maskapai AirAsia yang memiliki penerbangan langsung ke ibu kota provinsi Jawa Barat itu. Dia mengaku berbisnis pakaian, pesan di Bandung, lalu dibawa ke Kuala Lumpur.
Kami pun mengobrol sepanjang perjalanan melalui jalan tol yang mulus dan tidak ramai. Kiri dan kanan tampak perkebunan kelapa sawit, yang jika dilihat dari tinggi pokoknya, sudah berusia lebih dari 20 tahun. Mereka menjulang seperti pohon kelapa, bukti kejayaan Malaysia dulu pernah jadi produsen kelapa sawit terbesar dunia sebelum akhirnya disalip Indonesia beberapa tahun lalu.