- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
VIVA.co.id -Â Bangunan semi permanen itu berukuran 8x4 meter. Beratap triplek. Terletak persis di samping rumah utama.
Di dalam bangunan, beberapa orang tampak sibuk bekerja. Di kanan kirinya bertumpuk kayu, triplek, dan onggokan kerang yang sudah dikeringkan. Beberapa bahan baku untuk membuat kerajinan bingkai dan cermin, seperti lem dan cat, juga tertata di antara tumpukan kayu.
Dengan cekatan, para pekerja memulai proses pembuatan produk kerajinan bingkai dan cermin dari bahan kayu serta triplek itu. Dari proses pemotongan kayu hingga menjadi barang jadi.
Beberapa di antaranya menempelkan kerang sebagai hiasan bingkai. Hasil produk kerajinan itu tampak rapi dan unik. Ya, di ruangan yang berlantai semen itu, aktivitas seolah tampak normal. Tak tampak raut kecemasan di wajah para pekerja itu.
Mereka hanya berpikir menyelesaikan pekerjaan untuk memenuhi target. Sebab, besar kecilnya bayaran yang mereka peroleh, tergantung dari berapa banyak barang yang selesai dibuat dalam satu hari.
Yanto misalnya. Di tempatnya saat ini bekerja, Zulfi Natural Craft, di kawasan sentra kerajinan, Kasongan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dia tidak pernah memikirkan kondisi ekonomi negara. Apalagi, sampai berpikir soal terpuruknya nilai rupiah terhadap dolar.
"Ya, saya kerja sesuai target, dalam satu hari berapa barang kerajinan yang harus saya selesaikan," kata Yanto kepada VIVA.co.id, Selasa 25 Agustus 2015.
Pria yang bekerja dengan sistem borongan ini tidak mau tahu mengenai menguatnya dolar terhadap rupiah. Menurut dia, meskipun produk yang dibuatnya harganya semakin tinggi, tidak berpengaruh menambah kesejahteraannya.
"Yang penting saya kerja, barang baku ada dan bahan penunjang lain tersedia. Sebagai buruh, saya kerja membuat handycraft sebanyak mungkin," tuturnya polos.
Yanto boleh saja "tidak peduli" dengan tertekannya rupiah. Namun, kondisi itu tidak berlaku bagi Jumakir. Selaku pemilik Zulfi Natural Craft, Jumakir mengaku dipusingkan dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah.
Karena, perjanjian jual-beli yang dilakukan dengan pembelinya di luar negeri tidak menggunakan dolar.
Sesuai peraturan Bank Indonesia, transaksi di dalam negeri wajib menggunakan rupiah. Meskipun, untuk meningkatkan nilai produk dalam negeri, harga jual yang dipatok di pasar internasional bisa juga menggunakan dolar.
Dengan catatan, ketika pembeli membayar produk yang dibeli, harus terlebih dahulu menukarkan dolarnya ke rupiah.
"Di Kasongan, eksportir yang menjual handycraft dalam dolar bisa dihitung dengan jari. Misal ada 100 eksportir, hanya satu hingga lima eksportir yang bertransaksi menggunakan dolar," ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa 25 Agustus 2015.
Menurut Jumakir, melemahnya rupiah membuat produk yang dijualnya menjadi lebih murah. Namun, bahan baku untuk produksi semakin mahal. Bahan baku pabrikan yang digunakan seperti triplek, lem dan cat, cepat atau lambat akan terjadi kenaikan harga.Â
"Harga barang yang kami ekspor enggak naik, tapi bahan bakunya melonjak," ungkapnya.
Apalagi, dalam satu bulan, Jumakir ditarget harus mengirim 2.000 unit bingkai dan 50-100 cermin dengan ukuran 80 sentimeter kali 160 sentimeter. Dia harus memenuhi kontrak sekitar 6.000 unit bingkai dengan harga Rp30.000 per unit.
Dengan pelemahan rupiah, harga jual barang di negara tersebut bisa turun 10 kali lipat. Yang lebih mengenaskan, perajin tak bisa menempelkan merek di produk kerajinan yang akan diekspor.
"Frame dan cermin yang mau diekspor sudah diberi merek Bahamas yang merupakan salah satu kota di Kanada," tuturnya.
Kesulitan yang dialami Jumakir itu, juga diakui Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Toto Dirgantoro.