- VIVA.co.id/Mustakim
Ia menilai, sekolah formal hanya mengajarkan sesuatu yang bersifat akademis dan kognitif. Sementara itu, ia ingin fokus dan menggali potensi diri dengan meningkatkan keterampilan dan bakatnya.
Rara mengatakan, selama dua tahun menjalani homeschooling, banyak hal yang sudah ia pelajari. Tak hanya itu, ia bisa terus mengasah kemampuannya dalam bidang fashion, bahasa asing, dan kemahirannya bermain piano.
Selain itu, ia tetap bisa membantu orangtuanya, baik untuk mengurus rumah maupun bisnis. “Saya juga mengajar bahasa Inggris dan mengaji untuk anak-anak,” ujarnya bangga.
Memilih Berbeda
Rara tak sendiri. Adiknya, Itsna Suksma Sakinah juga mengikuti jejaknya. Alih-alih sekolah di SMA, lulusan Sekolah Alam Indonesia ini memilih mengikuti pilihan kakaknya, belajar secara mandiri dengan model homeschooling.
Bedanya, jika Rara sudah dua tahun menjalani sistem belajar mandiri, adiknya baru satu tahun menjadi siswi homeschooling.
Achmad Fauzi (46) mengatakan, ia mendidik anak-anaknya dengan sistem homeschooling bukan tanpa alasan. Menurut dia, cara itu sengaja dipilih karena ingin anak-anaknya memiliki karakter dan akhlak yang baik.
Selain itu, ia ingin anak-anaknya berkembang sesuai bakat dan minatnya masing-masing. “Saya tidak ingin anak-anak hanya belajar akademis dan kognitif,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 3 Maret 2016.
Dia menilai, sekolah formal hanya sibuk menjejali anak-anak dengan beragam pelajaran. Namun, tidak intens dalam mengembangkan karakter, budi pekerti, dan potensi anak.
“Secara akademis mungkin bagus, tapi untuk pengembangan karakter kurang,” ujar fotografer di salah satu media nasional ini menambahkan.
Selain itu, dengan homeschooling, ia dan istrinya bisa memantau perkembangan anak-anaknya setiap saat.
Ia mengatakan, homeschooling bukan memindahkan sekolah ke rumah. Namun, memberi kebebasan dan keleluasaan anak-anaknya untuk menggali bakat dan potensinya. “Mereka bebas untuk belajar apa saja,” ujarnya.
Selain les, anak-anaknya juga sering ikut berbagai diskusi dan seminar. Ia juga tak melarang saat anaknya aktif di sejumlah komunitas dan organisasi.
Ia berharap, dengan berbagai kegiatan itu anaknya tak hanya paham beragam pelajaran. Namun, juga memiliki berbagai keterampilan dan bisa berinteraksi di masyarakat dengan baik.