SOROT 386

Mereka Memilih Sekolah di Rumah

Zahratul Fauziah lebih memilih homeschooling, agar bisa lebih leluasa menggali potensinya.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mustakim

Pemerhati anak ini menambahkan, ia sengaja memilih homeschooling karena tak semua anak cocok dengan sekolah formal. Menurut dia, jika mereka dipaksa belajar di sekolah formal, berarti melanggar hak anak. Sama halnya anak yang lebih senang sekolah formal dipaksa sekolah homeschooling itu juga pelanggaran hak anak.

img_title Mendirikan Homeschooling

“Jadi, ini membuka lebih luas mengenai sistem belajar anak. Karena, itu dijamin di dalam UU Sistem Pendidikan Nasional bahwa belajar untuk anak-anak itu bisa formal dan informal,” dia menerangkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, anak-anak tak bisa dipaksa belajar di sekolah formal. “Mereka banyak yang stres. Sekarang, kalau sekolah formal ada bullying, ada pengaruh narkoba, tawuran, dan segala macam, jadi tidak semua anak cocok,” ujar Kak Seto.

img_title Sekolah yang Memerdekakan

Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, mengatakan, masyarakat memilih homeschooling karena kalau sekolah di rumah tak ada bullying. Selain itu, homeschooling merupakan ekspresi ketidakpuasan orangtua terhadap sistem pendidikan di sekolah.

Ketidakpuasan itu bisa dari model pembelajarannya, kurikulumnya, atau gurunya. “Intinya orangtua tidak puas,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 3 Maret 2016.

img_title Elektabilitas PAN Melejit, Slamet Ariyadi Ungkap Faktor Utamanya

Sementara itu, homeschooling bisa dilakukan sesuai kebutuhan anak. Jadwal belajar juga disusun sendiri sesuai dengan minat anak.  

“Kalau di sekolah formal kan tidak bisa, Kamu senang atau tidak senang dengan pelajaran, ya tetap harus belajar,” kata Darmaningtyas.
 
Senada, Bambang Wisudo juga menilai, maraknya homeschooling karena masyarakat tidak puas dengan sekolah konvensional yang mengikuti aturan pemerintah. Misalnya, anak dibebani dengan beban belajar yang sangat banyak, kemudian dipaksa untuk harus  bisa semua bidang studi.

“Kalau mereka tak puas dengan sekolah mainstream, mereka bisa ke sekolah alternatif,” ujar aktivis Pendidikan Tanpa Batas ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Direktorat Pendidikan Keaksaraan dan Pendidikan Kesetaraan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Erman Syamsudin membantah, menjamurnya homeschooling dan pendidikan alternatif karena sistem pendidikan di sekolah formal buruk.

“Tidak, bukan itu. Pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk memberikan peluang, mendidik dengan berbagai cara. Pemerintah memberikan peluang. Tidak kritik terhadap pendidikan konvensional,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 2 Maret 2016.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut