SOROT 386

Mereka Memilih Sekolah di Rumah

Zahratul Fauziah lebih memilih homeschooling, agar bisa lebih leluasa menggali potensinya.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mustakim

Citra merupakan salah satu dari ratusan siswa HSKS. Pendiri HSKS, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto mengatakan, HSKS berdiri sejak 4 April 2008. Ia sengaja mendirikan lembaga tersebut karena setiap anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

img_title Terungkap! Penganiayaan Serda Ahmad oleh 4 Seniornya Dipicu Hal Sepele

Namun, fakta di lapangan menunjukkan, banyak anak mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan selama bersekolah. Misalnya kasus bullying, bentakan, dan kekerasan dari guru bahkan pemasungan kreativitas anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pengalaman-pengalaman yang kurang berkesan tersebut menimbulkan phobia terhadap sekolah bagi anak dan orangtua,” ujarnya.

img_title Janice Tjen Ditumbangkan Mantan Peringkat 3 Dunia di Guadalajara Open 2026

Selain itu, upaya penyeragaman kemampuan dan keterampilan anak di segala bidang turut mematikan minat dan bakat anak yang berbeda-beda. Karena, menurut Kak Seto, setiap anak unik.

Kurikulum yang terlalu padat dan tugas-tugas rumah yang menumpuk juga membuat kegiatan belajar menjadi beban bagi sebagian anak.

img_title Bangladesh Dihantam Masalah Jelang Hadapi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

“Melihat kondisi ini, maka perlu dicarikan solusi alternatif bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sistem pendidikan formal. Salah satu bentuknya adalah homeschooling (sekolah rumah),” ujarnya.

Meski tak belajar di sekolah formal, bukan berarti anak didik homeschooling tak memiliki daya saing. Kak Seto menuturkan, siswanya banyak yang jebolan dari sekolah internasional.

Dan ketika lulus, mereka diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri, seperti di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, dan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.

“Misalnya di Australia, Inggris, dan Amerika. Bahkan ada juga satu murid kami yang diterima di Harvard University,” tuturnya bangga.

Menurut dia, homeschooling membuat anak lebih dekat dengan keluarga. Menurut dia, tak sedikit anak di sekolah formal yang stres, mau bunuh diri, dan ribut terus dengan orangtuanya. “Nah, setelah homeschooling, mereka jadi lebih dekat dengan keluarganya, akrab begitu. Kelebihan lain bisa mengembangkan bakatnya,” kata dia.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2009/02/05/64787_seto_mulyadi_dan_arist_merdeka_sirait_663_382.jpg

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Solusi alternatif bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sistem pendidikan formal, salah satu bentuknya adalah homeschooling

Kritik Sistem Pendidikan
Maraknya homeschooling dan pendidikan alternatif merupakan bagian dari kritik masyarakat terkait pendidikan formal. Sebab, pendidikan formal masih terlalu kaku, guru otoriter, main paksa, mendidik dengan cara-cara kekerasan. ”Ini justru menjadikan robot-robot belajar, kehilangan kreativitas jadinya,” ujar Kak Seto.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut