- VIVA.co.id/Mustakim
Citra merupakan salah satu dari ratusan siswa HSKS. Pendiri HSKS, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto mengatakan, HSKS berdiri sejak 4 April 2008. Ia sengaja mendirikan lembaga tersebut karena setiap anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan, banyak anak mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan selama bersekolah. Misalnya kasus bullying, bentakan, dan kekerasan dari guru bahkan pemasungan kreativitas anak.
“Pengalaman-pengalaman yang kurang berkesan tersebut menimbulkan phobia terhadap sekolah bagi anak dan orangtua,” ujarnya.
Selain itu, upaya penyeragaman kemampuan dan keterampilan anak di segala bidang turut mematikan minat dan bakat anak yang berbeda-beda. Karena, menurut Kak Seto, setiap anak unik.
Kurikulum yang terlalu padat dan tugas-tugas rumah yang menumpuk juga membuat kegiatan belajar menjadi beban bagi sebagian anak.
“Melihat kondisi ini, maka perlu dicarikan solusi alternatif bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sistem pendidikan formal. Salah satu bentuknya adalah homeschooling (sekolah rumah),” ujarnya.
Meski tak belajar di sekolah formal, bukan berarti anak didik homeschooling tak memiliki daya saing. Kak Seto menuturkan, siswanya banyak yang jebolan dari sekolah internasional.
Dan ketika lulus, mereka diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri, seperti di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, dan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.
“Misalnya di Australia, Inggris, dan Amerika. Bahkan ada juga satu murid kami yang diterima di Harvard University,” tuturnya bangga.
Menurut dia, homeschooling membuat anak lebih dekat dengan keluarga. Menurut dia, tak sedikit anak di sekolah formal yang stres, mau bunuh diri, dan ribut terus dengan orangtuanya. “Nah, setelah homeschooling, mereka jadi lebih dekat dengan keluarganya, akrab begitu. Kelebihan lain bisa mengembangkan bakatnya,” kata dia.
![]()
Solusi alternatif bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sistem pendidikan formal, salah satu bentuknya adalah homeschooling
Kritik Sistem Pendidikan
Maraknya homeschooling dan pendidikan alternatif merupakan bagian dari kritik masyarakat terkait pendidikan formal. Sebab, pendidikan formal masih terlalu kaku, guru otoriter, main paksa, mendidik dengan cara-cara kekerasan. ”Ini justru menjadikan robot-robot belajar, kehilangan kreativitas jadinya,” ujar Kak Seto.