- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
“Kami menggunakan Manajemen Langit. Allah Maha Kaya. Alhamdulillah dana selalu ada saja. Kalau kami butuh, ada,” ujar Andien saat ditanya soal dana untuk membiayai aktivitas Zona Bombong.
Andien mengatakan, hingga saat ini sebagian besar pendanaan masih ditanggung oleh komunitas secara swadaya. Sementara itu, sisanya merupakan sumbangan dari donator. Pendapat senada disampaikan Heri.
Menurut pengusaha desain interior ini, Zona Bombong memang menyampaikan informasi kepada publik terkait aktivitas sosial mereka. Namun, komunitasnya tak pernah meminta sumbangan atau bantuan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
“Boleh menginformasikan, boleh mengajak tapi jangan pernah meminta,” ujarnya menambahkan.
Meski demikian, hingga saat ini selalu ada jalan. Heri mengatakan, selalu ada orang yang bersedia membantu tiap kali mereka ingin berbagi.
Hari mulai beranjak malam. Heri pun beranjak. Ia menuju salah satu masjid di pinggiran kota. Di sana telah menunggu sekitar seratus orang yang sudah duduk bersila dan membentuk barisan di dalam masjid. Ia langsung berwudu dan segera bergabung dengan jemaah yang lain. Malam itu, jemaah Zona Bombong akan melakukan Muhasabah.
Mereka kemudian berdiri dan melakukan Salat Taubat dan Salat Hajat dilanjut dengan zikir. Tak berselang lama, lampu masjid dimatikan. Setelah itu, hanya terdengar orang yang menangis sesenggukan, bercampur suara istigfar yang menggema di langit-langit masjid, memecah kesunyian malam.