- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
“Biasanya saya akan terima. Namun, sebelum pulang saya akan kembalikan uang itu sambil mengatakan bahwa mereka butuh uang itu untuk check up lagi.”
Tinah (42), salah satu keluarga pasien yang menggunakan layanan Si Bulan mengatakan, dia sudah beberapa kali mendapatkan bantuan dari Si Bulan. Sebab, mertuanya yang bernama Kartem menderita gagal ginjal, sehingga dia harus bolak balik mengantarnya ke rumah sakit untuk cuci darah dua kali dalam sepekan.
Awalnya, Tinah naik angkutan umum untuk mengantar mertuanya ke rumah sakit. Namun, setelah ada Si Bulan, ia beralih menggunakan layanan tersebut. “Saya merasa terbantu sekali mas. Meski gratis tapi pelayanannya bagus,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 16 Maret 2016.
![]()
Ketua Zona Bombong, Andien Fardin mengatakan, Si Bulan merupakan program baru di komunitasnya. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih. Terima kasih banget. Karena, ambulans gratis ini sangat membantu dan meringankan beban kami,” ujar Soekarno (43), suami Tinah dengan terbata.
Ia mengatakan, selalu dilayani dengan baik dan tepat waktu. “Saya merasa senang dengan adanya ambulans gratis ini. Karena bisa membantu warga yang tidak mampu.”
Meski tak menarik bayaran dari pasien dan keluarganya, Catur tak pernah pusing dengan biaya operasional Si Bulan. Menurut dia, ada saja donator yang bersedia menanggung bahan bakar. Bahkan, salah satu perusahaan sudah mengaku siap mengurus perawatan ambulans yang ia kendarai.
Hari beranjak malam. Belasan orang tampak meriung di saung, salah satu rumah makan. Mereka duduk di lantai panggung yang terbuat dari kayu. Di depan mereka tampak sejumlah gelas dengan kopi hitam di dalamnya ditemani kudapan ala kadarnya.
Heri Kristianto, ada di antara mereka. Malam itu, jemaah Zona Bombong menggelar pertemuan, membicarakan sejumlah program. Salah satunya masa depan Si Bulan.