- VIVA.co.id/Bobby Andalan
Berkat ketelatenan dan keseriusan warga menjaga kebersihan, desa ini mendapat penghargaan sebagai salah satu dari tiga desa terbersih di dunia. “Kami menjual kebersihan desa, adat, tradisi, dan budaya yang masih terjaga hingga kini, meski sudah sejak ratusan tahun ada. Kami menjaga konsep pembangunan ala Bali,” ujarnya bangga.
Ia menyambut baik rencana Kementerian Pariwisata yang akan kembali menggalakkan keberadaan desa wisata. “Ya, itu bagus. Agar pariwisata tak melulu terpusat di sentra-sentra industri pariwisata,” ujarnya.
Ia berharap, dengan program itu akan ada dukungan penuh bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonomi kreatif. “Apalagi di Bali ini sebetulnya banyak sekali desa yang bisa dikembangkan menjadi desa wisata. Ekonomi masyarakatnya hidup, adat budayanya terjaga dan mampu memberi sumbangsih nyata kepada pemerintah. Selain itu kondisi lingkungan juga terjaga,” kata dia.
Menurut dia, yang terpenting adalah konsistensi dan keseriusan. “Kalau sudah mencanangkan, ya lakukan dengan serius. Keseriusan ditunjukkan dengan apa, misalnya dengan penyiapan SDM dan infrastruktur yang baik bagi sebuah desa yang masuk kategori desa wisata. Sudah itu dukung desa tersebut untuk promosinya,” ujarnya berharap.
Ia yakin, program desa wisata akan mampu mendongkrak jumlah wisatawan yang akan datang, baik wisatawan lokal maupun dari mancanegara.
Menurut dia, turis dari berbagai negara memiliki tujuan kunjungan berbeda ketika berlibur. Ia mengatakan, di Bali banyak sekali destinasi wisata. Namun, desanya tetap menjadi salah satu tujuan favorit bagi hampir sebagian wisatawan.
“Wisatawan itu ada yang ingin melihat pantai, alam, budaya, dan lain sebagainya. Tinggal turis mana yang disasar untuk mengunjungi desa wisata ini,” tuturnya.
Senada dengan Ni Nengah Kariyasa, I Nengah Moneng juga mengatakan, desanya selalu ramai dikunjungi wisatawan. “Setiap harinya banyak wisatawan yang berkunjung dari daerah dan negara lain. Bahkan, ada beberapa yang menginap di sini. Ingin merasakan sensasi menginap di sini,” katanya bangga.
Menurut dia, keuntungan tak hanya dinikmati oleh warga. Pemerintah juga ikut merasakan manisnya desa wisata. “Kami juga memberi sumbangsih berarti bagi pemerintah. Misalnya retribusi dari parkir, itu kami bagi hasil dengan pemerintah. 60 persen buat kami, 40 persen buat pemerintah.”