SOROT 395

Dunia Masih Lecehkan Jurnalis

Aksi Jurnalis di Hari Buruh
Sumber :
  • ANTARA/Agus Bebeng

Melalui websitenya, rsf.org, tanggal 20 April 2016, lembaga ini juga mengungkapkan kekecewaannya pada Presiden Joko Widodo. Jokowi dianggap melanjutkan berbagai kekerasan terhadap kemerdekaan media. Kasus Papua Barat jadi rujukan RSF. Jurnalis dan fixers yang berusaha melakukan liputan di Papua malah berisiko ditangkap. Kelompok ini juga menyoroti aturan memperoleh visa yang bersifat diskriminatif bagi jurnalis-jurnalis asing.

img_title Setahun, 39 Kasus Kekerasan Jurnalis Terjadi di Indonesia

Selanjutnya...Korban Brutalisme

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Korban Brutalisme

img_title Ketua AJI: Perbedaan adalah Hak Warga Negara

Menurut lembaga independen ini, kasus menghalangi kerja wartawan dan memberi kesempatan publik untuk mendapatkan informasi ternyata terjadi secara merata di seluruh dunia. Di Bangladesh, dalam empat bulan terakhir, lima blogger yang gencar menyuarakan pluralisme menjadi korban pembunuhan.

Mereka ditikam, dan pelakunya tak pernah ditangkap. Sebelum para blogger ini tewas, media Bangladesh sempat memberitakan bocornya data milik sebuah kelompok Islam militan yang menuliskan daftar blogger yang layak dibunuh.

img_title Masyarakat ASEAN Belum Bebas Akses Informasi

RSF juga menyoroti kasus pelemparan granat di sebuah stasiun radio di Burundi, wartawan Turki yang dipecat karena tulisannya yang mengkritisi Presiden Erdogan di Twitter, blogger yang dipenjara dan dicambuk di depan umum di Arab Saudi, dan kamp tahanan militer khusus jurnalis di Thailand, sebagai kasus yang sangat berbahaya bagi profesi ini.

Bagi RSF, kasus-kasus itu menjadi indikasi semakin besarnya halangan bagi jurnalis, untuk mendapatkan akses informasi dan menyuarakan kepentingan publik. Itu sebabnya, menyambut World Press Freedom Day 2016, RSF mengangkat tema “Great Year for Cencorship.” Sebuah tema nyinyir menghadapi aksi pembatasan kerja jurnalis.

Dikutip dari laman RSF, 2 Mei 2016,  mereka berpendapat, independensi jurnalis saat ini sedang tergerogoti di seluruh media dan seluruh dunia. “Peningkatan mekanisme sensor dan kontrol berita, propaganda aparat, dan ideologi ekstremisme, terutama dalam masalah agama yang memusuhi jurnalisme. Selain itu, oligarki yang membeli media membuat wartawan tertekan dan tunduk pada kepentingan perusahaan terkemuka yang kadang bekerja sama dengan pemerintah,” tulis RSF.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2015/03/19/302710_polisi-dan-jurnalis-berlari-di-luar-gedung-parlemen-tunisia_663_382.jpg

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Independensi jurnalis saat ini sedang tergerogoti di seluruh media dan seluruh dunia.FOTO: REUTERS/ Zoubeir Souissi

Merujuk pada tema “Great Year for Cencorship,” RSF secara tegas menunjuk 12 pemimpin negara yang dianggap bermasalah. Meski mengecam Jokowi karena membatasi akses ke Papua, namun Presiden RI tak menjadi salah satu dari 12 pemimpin dunia yang ditunjuk RSF sebagai pemimpin bermasalah bagi kebebasan pers dan penghalang kerja jurnalis.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut