- ANTARA/Agus Bebeng
Melalui websitenya, rsf.org, tanggal 20 April 2016, lembaga ini juga mengungkapkan kekecewaannya pada Presiden Joko Widodo. Jokowi dianggap melanjutkan berbagai kekerasan terhadap kemerdekaan media. Kasus Papua Barat jadi rujukan RSF. Jurnalis dan fixers yang berusaha melakukan liputan di Papua malah berisiko ditangkap. Kelompok ini juga menyoroti aturan memperoleh visa yang bersifat diskriminatif bagi jurnalis-jurnalis asing.
Selanjutnya...Korban Brutalisme
Korban Brutalisme
Menurut lembaga independen ini, kasus menghalangi kerja wartawan dan memberi kesempatan publik untuk mendapatkan informasi ternyata terjadi secara merata di seluruh dunia. Di Bangladesh, dalam empat bulan terakhir, lima blogger yang gencar menyuarakan pluralisme menjadi korban pembunuhan.
Mereka ditikam, dan pelakunya tak pernah ditangkap. Sebelum para blogger ini tewas, media Bangladesh sempat memberitakan bocornya data milik sebuah kelompok Islam militan yang menuliskan daftar blogger yang layak dibunuh.
RSF juga menyoroti kasus pelemparan granat di sebuah stasiun radio di Burundi, wartawan Turki yang dipecat karena tulisannya yang mengkritisi Presiden Erdogan di Twitter, blogger yang dipenjara dan dicambuk di depan umum di Arab Saudi, dan kamp tahanan militer khusus jurnalis di Thailand, sebagai kasus yang sangat berbahaya bagi profesi ini.
Bagi RSF, kasus-kasus itu menjadi indikasi semakin besarnya halangan bagi jurnalis, untuk mendapatkan akses informasi dan menyuarakan kepentingan publik. Itu sebabnya, menyambut World Press Freedom Day 2016, RSF mengangkat tema “Great Year for Cencorship.” Sebuah tema nyinyir menghadapi aksi pembatasan kerja jurnalis.
Dikutip dari laman RSF, 2 Mei 2016, mereka berpendapat, independensi jurnalis saat ini sedang tergerogoti di seluruh media dan seluruh dunia. “Peningkatan mekanisme sensor dan kontrol berita, propaganda aparat, dan ideologi ekstremisme, terutama dalam masalah agama yang memusuhi jurnalisme. Selain itu, oligarki yang membeli media membuat wartawan tertekan dan tunduk pada kepentingan perusahaan terkemuka yang kadang bekerja sama dengan pemerintah,” tulis RSF.
![]()
Independensi jurnalis saat ini sedang tergerogoti di seluruh media dan seluruh dunia.FOTO: REUTERS/ Zoubeir Souissi
Merujuk pada tema “Great Year for Cencorship,” RSF secara tegas menunjuk 12 pemimpin negara yang dianggap bermasalah. Meski mengecam Jokowi karena membatasi akses ke Papua, namun Presiden RI tak menjadi salah satu dari 12 pemimpin dunia yang ditunjuk RSF sebagai pemimpin bermasalah bagi kebebasan pers dan penghalang kerja jurnalis.