SOROT 395

Dunia Masih Lecehkan Jurnalis

Aksi Jurnalis di Hari Buruh
Sumber :
  • ANTARA/Agus Bebeng

Mereka menetapkan Salman bin Abdelaziz Al Saud (Saudi Arabia), Isaias Afwerki (Eritrea), Ilham Aliyev (Azerbaijan), Abdel Fattah al-Sisi (Mesir),  Prayuth Chan-ocha (Thailand), Recep Tayyip Erdogan (Turki), Kim Jong-Un (Korea Utara), Ali Khamenei (Iran), Nicolás Maduro (Venezuela), Pierre Nkurunziza (Burundi), Vladimir Putin (Rusia) , dan  Xi Jinping (China) sebagai 12 pemimpin bermasalah.

img_title Hari Kebebasan Pers Dunia, Jurnalis Makin Terancam

Sementara itu, The International Federation Journalist (IFJ) yang bekerja sama dengan South Asia Media Solidarity Network (SAMSN) menyoroti meningkatnya kasus jurnalis yang tewas karena menjadi korban kekerasan di Asia Selatan. Menurut IFJ dan SAMSN, sepanjang Mei 2015 hingga Mei 2016, terdapat 31 jurnalis, blogger, dan pekerja media tewas terbunuh. Kasus terbesar adalah di India, sedangkan Bangladesh terus bergerak menyusul India.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Menangani catatan buruk di Asia Selatan mengenai kekebalan atas kejahatan yang dilakukan pada jurnalis, membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Bagi mereka yang memperjuangkannya, harga yang harus dibayar sangat tinggi,” ujar IFJ melalui pernyataannya di ifj.org, 3 Mei 2016.

img_title Wartawan Diintimidasi Saat Liput Pilkada Ulang Mamberamo

Angkhana Neelapaijit dari Komnas HAM Thailand mengakui bahwa negaranya masih perlu memperoleh informasi dan pembelajaran dari negara sekitarnya dalam hal kebebasan berekspresi. Ia mengakui, masih banyak hal yang menjadi batasan bagi jurnalis di Thailand untuk menyuarakan informasi.

"Banyak tantangan yang terjadi saat ini di Thailand. Saya sangat berharap Thailand menerima banyak rekomendasi dari masyarakat internasional. Tidak hanya kebebasan berinstitusi tetapi juga membantu kami mempertahankan independensi informasi dan jurnalis bagi lembaga dan seluruh lapisan masyarakat," ujar Neelapaijit, dalam seminar Forum World Press Freedom Day di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa, 3 Mei 2016.

img_title Oknum Intel Polresta Yogyakarta Intimidasi Jurnalis

Selanjutnya...Sarat Kepentingan

Sarat Kepentingan

Ketatnya pembatasan pemberitaan juga menjadi keluhan Dandhi Dwi Laksono, mantan jurnalis televisi di Indonesia. Dandhi bahkan memilih banting stir menjadi jurnalis warga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui Watchdoc, media independen yang ia bangun, Dandhi memilih agar profesi jurnalis yang ia jalani bisa maksimal tanpa memikirkan pembatasan.

“Media hanya memikirkan mencari uang dan memperjuangkan kepentingan pemilik. Kami memilih concern pada keadilan,” ujarnya saat diwawancara VIVA.co.id, Sabtu, 30 Mei 2016. Dandhi mengaku tak khawatir dianggap menjadi musuh pemerintah dan pengusaha.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut