- ANTARA/Agus Bebeng
Mereka menetapkan Salman bin Abdelaziz Al Saud (Saudi Arabia), Isaias Afwerki (Eritrea), Ilham Aliyev (Azerbaijan), Abdel Fattah al-Sisi (Mesir), Prayuth Chan-ocha (Thailand), Recep Tayyip Erdogan (Turki), Kim Jong-Un (Korea Utara), Ali Khamenei (Iran), Nicolás Maduro (Venezuela), Pierre Nkurunziza (Burundi), Vladimir Putin (Rusia) , dan Xi Jinping (China) sebagai 12 pemimpin bermasalah.
Sementara itu, The International Federation Journalist (IFJ) yang bekerja sama dengan South Asia Media Solidarity Network (SAMSN) menyoroti meningkatnya kasus jurnalis yang tewas karena menjadi korban kekerasan di Asia Selatan. Menurut IFJ dan SAMSN, sepanjang Mei 2015 hingga Mei 2016, terdapat 31 jurnalis, blogger, dan pekerja media tewas terbunuh. Kasus terbesar adalah di India, sedangkan Bangladesh terus bergerak menyusul India.
“Menangani catatan buruk di Asia Selatan mengenai kekebalan atas kejahatan yang dilakukan pada jurnalis, membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Bagi mereka yang memperjuangkannya, harga yang harus dibayar sangat tinggi,” ujar IFJ melalui pernyataannya di ifj.org, 3 Mei 2016.
Angkhana Neelapaijit dari Komnas HAM Thailand mengakui bahwa negaranya masih perlu memperoleh informasi dan pembelajaran dari negara sekitarnya dalam hal kebebasan berekspresi. Ia mengakui, masih banyak hal yang menjadi batasan bagi jurnalis di Thailand untuk menyuarakan informasi.
"Banyak tantangan yang terjadi saat ini di Thailand. Saya sangat berharap Thailand menerima banyak rekomendasi dari masyarakat internasional. Tidak hanya kebebasan berinstitusi tetapi juga membantu kami mempertahankan independensi informasi dan jurnalis bagi lembaga dan seluruh lapisan masyarakat," ujar Neelapaijit, dalam seminar Forum World Press Freedom Day di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa, 3 Mei 2016.
Selanjutnya...Sarat Kepentingan
Sarat Kepentingan
Ketatnya pembatasan pemberitaan juga menjadi keluhan Dandhi Dwi Laksono, mantan jurnalis televisi di Indonesia. Dandhi bahkan memilih banting stir menjadi jurnalis warga.
Melalui Watchdoc, media independen yang ia bangun, Dandhi memilih agar profesi jurnalis yang ia jalani bisa maksimal tanpa memikirkan pembatasan.
“Media hanya memikirkan mencari uang dan memperjuangkan kepentingan pemilik. Kami memilih concern pada keadilan,” ujarnya saat diwawancara VIVA.co.id, Sabtu, 30 Mei 2016. Dandhi mengaku tak khawatir dianggap menjadi musuh pemerintah dan pengusaha.