SOROT 403

Mencicip Rujak Cingur Langganan Presiden

Warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz ini sudah berdiri sejak 46 tahun lalu.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nur Faishal

Gurun, warga setempat yang menjadi tukang parkir di warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz, menuturkan, warung tersebut mulanya berdiri di rumah kecil yang berada di samping bangunan sekarang. Lama-lama rumah besar berlantai tiga dibangun si pemilik rumah sekaligus dijadikan warung di garasinya.

img_title 7 Cara Menikmati Kopi agar Aroma dan Rasanya Lebih Terasa, Bukan Sekadar Memilih Biji Berkualitas

"Warung rujak ini sudah lama. Dulu di rumah kecil itu (sambil menunjuk rumah kuna di samping rumah besar lokasi warung sekarang). Baru setelah itu dibangun rumah besar ini," ujar Gurun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Cerita Pelanggan

img_title Tips Menyimpan Mochi Agar Tetap Fresh dan Chewy di Suhu Ruang

Ketika VIVA.co.id mengunjungi warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz, kursi-kursi masih tampak kosong. Pelanggan belum ada. Yang bisa ditemui hanyalah pemilik warung generasi kedua, Ng Giok Cu, dan anaknya, generasi ketiga, Sioe Sin.

Sioe Sin mengatakan, meski bulan Ramadan, ia tetap membuka warungnya seperti hari-hari biasa, dari pukul 11.00 siang sampai 17.00 sore. Tentu saja, jika Ramadan, pembelinya kebanyakan nonmuslim atau pelancong (musafir). "Kalau rujak kan memang enaknya dimakan siang hari," katanya memberi alasan.

img_title Tren Kuliner Dunia Bakal Berkumpul di Jakarta

Jelang buka puasa, lanjut dia, biasanya pembeli memesan rujuk dan dibungkus untuk disantap di rumah. Ia menuturkan, saat puasa pembeli memang lebih sepi. Lebih ramai saat jelang buka, tapi tidak dimakan di tempat. "Biasanya bungkus, pakai jasa GoJek," ucap Sioe.

Benarlah apa yang diutarakan Sioe. Satu jam setelah VIVA.co.id di warungnya, satu dua pelanggan datang. Mereka sebagian banyak orang suruhan, memesan rujak cingur tapi dibungkus. "Disuruh ibu beli rujak cingur di sini," kata salah seorang pembeli.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ada juga tiga mobil taksi mengantarkan pelanggannya membeli rujak di warung Sioe. Di antaranya keluarga Andre, warga Solo, yang tengah berwisata di Surabaya. Ia berkunjung ke warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz bersama istri, anak, dan ibunya. "Saya pengen rujak cingur dan diantarkan sopir taksi ke sini," ucapnya.

Andre menjelaskan, seperti di Surabaya, di Solo juga ada rujak cingur. Penampilan dan bahannya juga sama. Tahu-tempe dan buah-buahan dilumuri bumbu rujak berwarna gelap. "Yang beda, rujak cingur di Solo manis, kalau rujak cingur Jawa Timur-an lebih asin bumbunya," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut