- VIVA.co.id/Nur Faishal
Gurun, warga setempat yang menjadi tukang parkir di warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz, menuturkan, warung tersebut mulanya berdiri di rumah kecil yang berada di samping bangunan sekarang. Lama-lama rumah besar berlantai tiga dibangun si pemilik rumah sekaligus dijadikan warung di garasinya.
"Warung rujak ini sudah lama. Dulu di rumah kecil itu (sambil menunjuk rumah kuna di samping rumah besar lokasi warung sekarang). Baru setelah itu dibangun rumah besar ini," ujar Gurun.
Cerita Pelanggan
Ketika VIVA.co.id mengunjungi warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz, kursi-kursi masih tampak kosong. Pelanggan belum ada. Yang bisa ditemui hanyalah pemilik warung generasi kedua, Ng Giok Cu, dan anaknya, generasi ketiga, Sioe Sin.
Sioe Sin mengatakan, meski bulan Ramadan, ia tetap membuka warungnya seperti hari-hari biasa, dari pukul 11.00 siang sampai 17.00 sore. Tentu saja, jika Ramadan, pembelinya kebanyakan nonmuslim atau pelancong (musafir). "Kalau rujak kan memang enaknya dimakan siang hari," katanya memberi alasan.
Jelang buka puasa, lanjut dia, biasanya pembeli memesan rujuk dan dibungkus untuk disantap di rumah. Ia menuturkan, saat puasa pembeli memang lebih sepi. Lebih ramai saat jelang buka, tapi tidak dimakan di tempat. "Biasanya bungkus, pakai jasa GoJek," ucap Sioe.
Benarlah apa yang diutarakan Sioe. Satu jam setelah VIVA.co.id di warungnya, satu dua pelanggan datang. Mereka sebagian banyak orang suruhan, memesan rujak cingur tapi dibungkus. "Disuruh ibu beli rujak cingur di sini," kata salah seorang pembeli.
Ada juga tiga mobil taksi mengantarkan pelanggannya membeli rujak di warung Sioe. Di antaranya keluarga Andre, warga Solo, yang tengah berwisata di Surabaya. Ia berkunjung ke warung Rujak Cingur Ahmad Jaiz bersama istri, anak, dan ibunya. "Saya pengen rujak cingur dan diantarkan sopir taksi ke sini," ucapnya.
Andre menjelaskan, seperti di Surabaya, di Solo juga ada rujak cingur. Penampilan dan bahannya juga sama. Tahu-tempe dan buah-buahan dilumuri bumbu rujak berwarna gelap. "Yang beda, rujak cingur di Solo manis, kalau rujak cingur Jawa Timur-an lebih asin bumbunya," ungkapnya.