- PeopleOnline
Anti Hoax
Pemerintah boleh saja memiliki aturan untuk menangkal hoax. Namun realisasinya memang dirasa sulit karena menyangkut konten dalam jumlah banyak, dan jutaan akun media sosial.
Karenanya sekelompok orang yang mengaku membenci peredaran hoax di lingkungan internet, bergabung membentuk Masyarakat Antihoax. Meski para anggotanya dituding sebagai pendukung calon gubernur tertentu, namun mereka membantah dan menegaskan hanya ingin membersihkan dunia maya dari hoax yang tak berkesudahan.
Saking banyaknya hoax, baik berupa foto, video, sampai tulisan, Masyarakat Antihoax atau Masyarakat Antifitnah Indonesia berinisiatif menghalau itu semua. Data yang mereka berikan cukup mengejutkan. Dalam sehari mereka mengaku mendapatkan puluhan laporan berita hoax. Laporan itu masuk melalui fanpage yang mereka bentuk di Facebook.
"Tetapi tidak semua (laporan) kita proses. Maksudnya, beberapa mungkin duplikasi postingan yang sudah ada. Setelah mendapatkan laporan postingan hoax, MAFI akan mencari tahu kebenarannya. Kemudian segera menjawab berita hoax dengan bukti yang otentik,” kata Ketua MAFI Setiadji Eko Nugroho.
Namun, diakui Eko, masalah besarnya justru muncul setelah berita hoax kadung tersebar dan melibatkan banyak orang ikut-ikutan menyebarkan tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Mereka menelan mentah-mentah isi berita itu. Bahkan tanpa melihat isi, hanya dengan melihat judul, mereka menyebarkannya begitu saja, dibumbui dengan status buatan sendiri yang terkesan membenarkan.
Yang menjadi acuan si penyebar hoax biasanya media mainstream, kemudian dipelintir dan disebarkan lewat situs yang tidak jelas redaksinya.
Mirisnya, terkadang si penyebar bukan orang yang pendidikan rendah, tapi pendidikan tinggi. "Mereka yang berpendidikan tinggi S2, S3 tapi masih nyebar hoax. Itu kan sesuatu fakta yang menyedihkan," ujar Eko.
Sama seperti yang diungkap Paul Horner, sang maestro pencipta dan penyebar berita hoax asal Amerika. Saat wawancara dengan Washington Post, ia mengatakan, "Sejujurnya, manusia sekarang sangat bodoh. Mereka menyebar berita apa saja, tanpa ada cek dan ricek lagi. Itulah mengapa akhirnya Trump terpilih (sebagai presiden AS). Apa yang saya ingin katakan, semua orang percaya. Kalau ternyata yang saya katakan tidak benar, semua orang tidak peduli karena mereka telah ‘menelannya'. Ini sangat menakutkan”.