- ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
VIVA.co.id – Sahutan kencang tiba-tiba terdengar keras dari suatu podium di Menara Trump, Kota New York, Amerika Serikat, Rabu malam, 11 Januari 2017 pukul 23.00 waktu setempat. "Bukan kamu, bukan kamu! Saya tidak akan menjawab pertanyaan kamu. Media kamu palsu dan penyebar berita hoax. Diam, diam!”
Begitu pernyataan yang dilontarkan Donald John Trump. Itu adalah konferensi pertama sejak ia dinyatakan memenangkan pertarungan Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 9 November 2016.
Rasa emosionalnya yang tak terbendung ini dilontarkan kepada wartawan CNN, Jim Acosta. Dengan muka merah dan sambil menunjuk-nunjuk, taipan properti itu secara tegas membantah adanya bocoran dokumen tentang skandal Watersportsgate. Dokumen setebal 35 halaman yang disebut-sebut dimiliki agen intelijen Inggris, MI6, bernama Christoper Steele itu mengungkap, Trump pernah menghadiri acara olahraga air di salah hotel mewah di Moskow, Rusia, pada 2013.
Hotel itu ternyata pernah menjadi tempat menginap Presiden AS Barack Obama dan Ibu Negara Michelle Obama. Di sana Trump menikmati waktunya untuk menonton para pelacur memperagakan gerakan seksual yang disebut ‘golden shower’ di atas ranjang yang pernah ditiduri pasangan suami istri Obama.
Dokumen itu kemudian disiarkan CNN dan situs online, BuzzFeed. Inilah yang membuat Trump sewot tak keruan dan langsung mengundang kehebohan di AS.
Tanpa tedeng aling-aling, Trump lalu menuduh Badan Intelijen AS (CIA) berada di balik publikasi dokumen sangat rahasia ini dengan tujuan untuk menjegal dirinya.
"Itu (yang CIA lakukan) adalah sesuatu yang dilakukan oleh Nazi Jerman," tuding Presiden AS ke-45. Bisa dibilang, ini adalah kado awal tahun Trump yang paling ‘istimewa’.
Presiden terpilih AS Donald Trump mengamuk saat dituding terlibat dengan Rusia, 11 Januari 2017. (REUTERS/Lucas Jackson)
Trump pantas mengamuk mendengar kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya itu, alias hoax. Apalagi bila kabar itu dikonsumsi oleh suatu media massa ternama dan menyebar cepat di jagad maya.
Tidak bisa dipungkiri, bersamaan dengan menjamurnya media sosial maupun media massa versi daring (online), penyebaran hoax pun tak terbendung. Ujaran penuh kebencian di timeline-timeline media sosial – yang menjadi ciri khas hoax – berseliweran setiap saat.