SOROT 445

Mengabdi Lewat Startup untuk Rakyat

Co-Founder Binar Academy, Alamanda Shantika Santoso.
Sumber :
  • www.alamandashantika.com

"Masih banyak yang timpang antara knowledge teknologi di Jakarta dan Medan, itu masih jauh. Makanya fokus kota besar, terus ke kota terpencil," kata perempuan belum genap 30 tahun itu.

img_title Membaca Perempuan Lewat Kain, Warna dan Keheningan

Selanjutnya, Dominasi Maskulin

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dominasi Maskulin 
Alamanda mengakui saat ini peran perempuan dalam bidang teknologi memang masih kalah dominan dibanding kaum adam. 

img_title Lebih dari Sekadar Surat, Tembang Alit Kartini Ungkap Sisi Lain RA Kartini sebagai Promotor Seni Dunia

Di dunia programmer, dia mengatakan, lebih lekat dengan dunia maskulin. Menurut pengalamannya masih susah untuk menemukan pasukan programmer dari kaum hawa. 

Saat dia menukangi aplikasi Gojek, porsi programmer perempuan hanya 10 persen. Begitu pula saat dia kuliah, satu kelas, programmer perempuan hanya 10 persen saja, sisanya kaum adam. 

img_title Kisah Mak Netty Usia di Atas 50 Tahun Jadi Driver Ojol, Benar-benar Cerminan Kartini Masa Kini

"Jadi memang kesannya coding itu cowok banget, maskulin," ujarnya.

Dia mengatakan, isu kesenjangan jumlah perempuan yang terjun di bidang teknologi tak hanya melanda di Indonesia, problem ini juga terjadi di global termasuk di perusahaan teknologi dunia.

Aktivis digital Kibar, Alamanda Shantika Santoso.

Sikap mental dari kaum hawa menjadi salah satu faktor sedikitnya perempuan terjun ke dunia teknologi. (VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto)

Alamada kurang tahu apa sebabnya perempuan sedikit yang terjun ke dunia teknologi. Namun menurutnya ada pengaruh dari sikap mental dari sang kaum hawa. Dia melihat mental yang lebih mengalah dari pria membuat tekad ingin menjadi terdepan dalam diri kaum hawa menjadi rendah.

"Di tim saya dulu, kan memang sedikit ceweknya dan mereka  makin enggak ada sense of leadership-nya. Kurang pede. Saat diminta naik level sedikit saja, mereka ngeluh 'aduh saya bisa enggak ya'," kata dia.
 
Alamanda menilai, sikap mental itu terbawa dari kultur umum di Indonesia yang masih mengonstruksikan batasan ruang bagi perempuan. Masih ada pemikiran perempuan harusnya di rumah saja, setelah berkarier dan bekerja perempuan menikah dan mengikuti suami. Hal itu menurutnya membuat perempuan terbatas dan menjadi kurang independen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi enggak punya goal dan mimpi besar. Enggak ada goal, menikah, sudah. Kurang lebih begitu," ujarnya.

Alamanda merasakan bedanya pengaruh tumbuh dalam kultur barat. Dia dididik oleh orang tuanya dengan kultur independen ala barat. Saat dia memasuki umur 18 tahun, Alamanda harus hidup berpisah dengan orang tuanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut