- www.alamandashantika.com
Dia merasakan bagaimana kerasnya berjuang hidup tanpa uluran sang orang tua. Ibundanya juga terus berpesan kepadanya saat menikah, tetap harus mampu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.
Saat hidup lepas dari orang tua, Alamanda untungnya punya bekal keahlian teknologi, yang dia kenal dan sukai sejak dia umur 14 tahun. Berbekal pengetahuan karya coding sampai berjualan tutorial coding lewat DVD. Perempuan enerjik ini juga tak malu untuk berjuang hidup dengan mengajar privat anak sekolah.
"Saya lebih menghargai uang, hargai kita, harus strugling dalam hidup ini, di western di kultur itu sudah ada pada mereka," ujarnya.
Untuk mengatasi 'belenggu' kultur tersebut. Menurutnya, kuncinya ada pada diri masing-masing perempuan Indonesia, yakni harus mengubah pola pikir.
Hal itu penting, sebab menurutnya, perempuan cenderung berpikir inferior dari kaum adam. Dengan sikap mental dan pola pikir yang selalu rendah di bawah pria, maka akan terus membelenggu kaum hawa.
"Ceweknya harus dibalik, bagaimana cewek berpengaruh pada dunia, bukan kok lebih rendah dari cowok," katanya.
Alamanda ingin gagasannya terus berdampak luas bagi masyarakat, sampai dia memimpikan diri suatu saat menjadi menteri pendidikan. Sebab dengan menjabat sebagai petinggi negara, dia bisa mengelola dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
"Saya mikirnya sukses itu seberapa besar impact kita ke orang bukan materi, bukan jabatan," kata dia.
Alam pikiran Alamanda itu tampaknya sejalan dengan pemikiran tokoh sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang menyatakan duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya. (adi)