SOROT 445

Berawal dari Libur Panjang

Mona Lohanda
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Selain di Arnas, Mona tak pernah menjajal pekerjaan atau profesi lain. “Jadi kalau ditanya bagaimana pengalaman kerja saya, saya tidak pernah punya pengalaman bekerja selain di Arsip Nasional,” ia menuturkan.

img_title Ayo Berburu Diskon! Ini Deretan Promo Spesial Makanan dan Minuman di Hari Kartini 2026

Meski tak sengaja dan berawal dari iseng, Mona konsisten menekuni profesinya sebagai sejarawan dan arsiparis. “Jadi sekali lagi, sebenarnya saya tidak merencanakan untuk menjadi arsiparis. Jalan yang mengarahkan saya ke sana, ya sudah, saya konsisten. Saya tidak pernah berhenti menggeluti dunia kearsipan.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mona Lohanda

img_title Hari Kartini Bukan Sekadar Kebaya, Ini Makna Emansipasi yang Sering Dilupakan

Di tengah era modernisasi dan kemajuan teknologi, Mona Lohanda konsisten menekuni profesinya sebagai sejarawan dan arsiparis. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Selanjutnya, Dunia Arsiparis

img_title Banyak yang belum Tau! Hari Kartini Pertama Kali Ditetapkan oleh Soekarno, Ini Sejarah Lengkapnya

Dunia Arsiparis

Mona mengatakan, arsiparis ada beberapa macam. Ada arsiparis yang bertugas membaca dokumen, mencatat, dan menata. Ada yang bertugas melayani dan ada yang khusus membidangi restorasi. “Jadi kalau ada dokumen atau arsip yang rusak, mereka harus belajar teknik merestorasi arsip atau dokumen,” ujarnya.

Menurut dia, arsiparis dengan sejarah memiliki kedekatan. Sebab, kalau ingin menjadi seorang arsiparis, harus memiliki kemampuan pengetahuan sejarah. “Kalau Anda tak memiliki pengetahuan tentang sejarah, Anda baca dokumen juga tidak akan mengerti apa maksudnya,” Mona menambahkan.

Nah, sayangnya, saat ini banyak arsiparis yang tak memiliki background pendidikan sejarah. Akibatnya, saat membaca dokumen mereka tidak melihat konteksnya. Selain itu, ketika tidak belajar sejarah, pasti akan pontang-panting ketika membaca atau mengartikan sebuah dokumen.

“Membaca dokumen atau arsip itu orang harus mengerti konteksnya, konteks kapan arsip atau dokumen itu dikeluarkan,” ia menerangkan.

Mona Lohanda

Pendidikan arsiparis di Indonesia hingga saat ini belum ada. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mona menjelaskan, ada pendidikan khusus untuk menjadi arsiparis. Namun, di Belanda dan sejumlah negara lain. Sementara itu, di Indonesia, baru sebatas wacana dan rencana.

“Di Belanda ada universitasnya, di Inggris juga ada universitasnya, di Amerika juga ada universitasnya. Di Indonesia dulu pernah ada rencana dari program D3 dan S1. Tapi, SDM kita kurang. Infrastrukturnya juga belum mampu. Ya akhirnya cuma selesai di rencana saja,” ujar sejarawan yang menekuni paleografi ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut