- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Profesi arsiparis, menurut Mona, membuat orang harus banyak membaca. Kedua harus menghargai setiap tulisan atau dokumen. Selain itu, seorang arsiparis harus menguasai berbagai bahasa.
“Kelebihan lainnya adalah networking atau jaringan. Biasanya seorang arsiparis itu memiliki jaringan yang luas. Teman-teman saya sangat banyak, bukan hanya para sejarawan dalam negeri, tapi orang Belanda, Inggris, Amerika,” ujarnya bangga.
Berbagai penghargaan sudah diraih Mona. Mulai dari Nabil Award, pada 2010, Anugerah Budaya dari Gubernur DKI pada Desember. Selain itu, berkat ketekunannya, Mona juga diganjar penghargaan oleh Kompas dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Bakrie Award adalah penghargaan yang kelima sepanjang hidup saya yang pernah saya terima,” ujarnya.
Meski sudah pensiun, Mona masih memiliki perhatian besar terhadap dunia arsiparis. Ia berharap, di setiap kampus memiliki jurusan atau program studi sejarah.
“Saya menginginkan mereka melakukan studi tentang sejarah lokal masing-masing daerah yang diteliti dengan menggunakan arsip-arsip lama, seperti dokumen atau sumber dari Babat, dari mana pun gitu ya, agar semua bisa saling melengkapi,” ujarnya.
Menurut dia, hal itu perlu dilakukan agar arsip atau dokumen sejarah bangsa tetap terawat. “Karena masih banyak arsip sejarah negara kita yang sampai saat ini tidak tahu di mana keberadaannya, misalnya teks Supersemar, sampai sekarang itu tidak tahu di mana itu teks aslinya,” ia menuturkan.
Selanjutnya, Bukan Hanya Kartini
Bukan Hanya Kartini
Mona mengatakan, sebenarnya Indonesia memiliki banyak tokoh dan pahlawan nasional selain Kartini. “Di Bandung ada namanya Dewi Sartika yang buka sekolah, kemudian ada juga Rohana Kudus di Padang. Jadi sebenarnya di zaman itu banyak tokoh-tokoh perempuan di luar R.A Kartini yang juga telah menunjukkan keberaniannya, perjuangannya untuk memajukan bangsa,” ujarnya.
Menurut dia, R.A Kartini lebih menonjol karena satu-satunya perempuan Indonesia yang diekspose oleh Belanda. Sementara itu, yang lain seperti Dewi Sartika dan yang lain tak mendapat kemewahan itu.
“Jadi menurut saya, Kartini itu beruntung. Pertama, dia priyayi Jawa. Dan Belanda lebih memperhatikan orang-orang Jawa ketika itu,” ujarnya.