- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Ia menjelaskan, hampir setiap daerah memiliki tokoh-tokoh perempuan yang hidup hampir sama di zaman Kartini. Misalnya, Cut Nyak Dien.
“Kurang apa Cut Nyak Dien. Dia berjuang lebih berat dibandingkan Kartini. Tapi, memang apa yang dilakukan oleh Kartini ketika itu terkait dengan kebijakan politik Pemerintahan Belanda. Jadi ketika itu nyambung saja situasi politiknya. Dia diekspose oleh Belanda setelah dia mengirim surat Habis Gelap Terbitlah Terang itu,” ia menerangkan.
![]()
Mona Lohanda ingin perempuan Indonesia lebih mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Mona mengatakan, dalam konteks Kartini, yang paling penting dan harus dipegang teguh adalah semangat keberagaman. Selain itu, Kartini menonjol karena intelektualitasnya. “Saya pernah membaca dan mempelajari arsip surat-surat dari Kartini. Dalam suratnya kan perempuan itu harus belajar tentang ekonomi rumah tangga, dan segala macamnya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kemandirian perempuan. “Mandiri, itu yang penting dari semangat Kartini saat ini.”
Perempuan juga harus bisa membuktikan bahwa dia bisa membuat dirinya mandiri, tidak tergantung pada orang lain. “Buktikan kalau dia mampu, dengan cara-cara yang baik dengan meningkatkan kemampuan intelektualnya dan membangun kekuatan ekonomi keluarganya.”
Kaum perempuan juga harus mampu menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi perempuan yang memiliki kepribadian yang mandiri. “Kalau perempuan itu mampu menjadi pribadi yang mandiri, maka perempuan itu tidak akan dianggap lemah dan dia tidak akan menjadi korban, baik dalam rumah tangga, atau di tempat lain,” tuturnya. (art)