- VIVA/Ikhwan Yanuar
“Ini adalah kritik kepada bisnis penerbitan buku kita yang tidak adil dalam mengembangkan sastra Indonesia dengan bisnis-keuntungan yang mereka cari,” ujarnya.
Penulis dan pendiri Indonesia Buku Muhidin M. Dahlan mengatakan, ia memutuskan menerbitkan dan menjual buku secara mandiri karena ingin menunjukkan bahwa memproduksi buku tak seangker yang dibayangkan orang. Selain itu, Yogyakarta memberikan kemudahan dengan ongkos yang terjangkau untuk menerbitkan dan menjual buku sendiri. [Lihat Infografik: Produksi Buku di Indonesia Rendah]
“Kota ini bejibun masalahnya, tapi juga bisa memberi solusi yang nyaman bagi ruang menulis buku, menerbitkan buku, menjual buku, dan mendiskusikan buku,” ujarnya.
![]()
Seorang pemandu pameran memegang buku Bukan Perawan Maria, pada Pameran Tafsir Rupa atas Cerita-Cerita dari Penulis Febi Indirani, di Galeri Cipta 3, TIM, Jakarta. (ANTARA FOTO/Dodo Karundeng)
Alasan berbeda disampaikan Feby Indirani. Penulis buku Bukan Perawan Maria ini mengatakan, awalnya ia akan menerbitkan bukunya tersebut di penerbit mainstream. Namun, saat itu situasi di Indonesia, khususnya Jakarta sedang tegang sekali soal beragama, karena pas mau pilkada DKI. Selain itu persekusi di mana-mana.
“Jadi penerbit mainstream ragu menerbitkannya,” ujarnya
Menurut Irwan Bajang, maraknya penulis yang menerbitkan dan menjual karyanya sendiri tak bisa dilepaskan dari perkembangan media sosial. Dunia teknologi sekarang sangat pesat, orang saat ini memiliki kuasa sendiri terhadap dunianya.
“Artinya, seorang penulis tidak harus mengirim tulisan ke koran atau majalah sastra misalnya, yang harus menunggu antrean dengan penulis-penulis ternama, diseleksi, dan kemudian muncul di koran atau di majalah. Sekarang ini, semua orang bisa menulis dan mempublikasikan tulisannya di media sosial yang dia punya,” ujar founder Indie Book Corner ini.
Praktisi penerbitan, Ade Maruf mengatakan, maraknya penulis yang menerbitkan dan menjual karyanya sendiri, karena itu bagian dari kemerdekaan dalam berkarya dan merilis karya secara mandiri. Kedua, ketersediaan teknologi cetak yang tidak harus memerlukan oplah dalam jumlah besar.
Selain itu, didukung pesatnya perkembangan teknologi informasi yang bisa dijadikan ajang berkarya, publikasi karya, dan berniaga oleh kreator atau penulis. Keuntungan yang didapat juga lebih besar karena tidak dipotong untuk biaya distribusi dan rabat.