- VIVA/Ikhwan Yanuar
Selanjutnya, Memperkaya Ragam
Memperkaya Ragam
Ade mengatakan, alih-alih mengancam penerbit mainstream, para penulis indie ini justru memperkaya dan memberi warna di dunia perbukuan. “Pola penerbitan mandiri itu alternatif untuk penulis lama atau pun baru. Semua ini justru menguntungkan bagi dunia buku secara umum,” ujarnya.
Bentang Pustaka juga tak merasa terancam. CEO PT Bentang Pustaka Salman Farid mengatakan, penerbitan buku melalui percetakan independen atau percetakan yang kecil tidak mungkin omzetnya besar. Selain itu, penjualan hanya melalui sistem online dan kepada komunitas sehingga promosi murah.
![]()
Seorang pedagang buku bekas menunggu pembeli di area Pasar Raya Padang, Sumatera Barat. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)
Yadi juga menyampaikan hal yang sama. Menurut dia, fenomena penulis indie justru menjadi angin segar bagi budaya literasi di Indonesia. Tinggal didukung bagaimana manajemen penulisannya.
“Karena sekarang bebas nulis di mana pun, enggak punya saringannya, tinggal disaring saja. Enggak sama sekali mengancam ke penerbit. Kami masih punya penulis-penulis loyal yang mau menerbitkan karyanya di penerbit,” ujarnya.
Kepala Toga Mas Baru Kotabaru Jogja, Singgih juga mengapresiasi keberadaan para penulis indie tersebut. Menurut dia, mereka memberi warna di dunia perbukuan. “Mereka militan dan bukunya pilihan, enggak sembarangan,” ujarnya.
“Kalau saya melihat, enggak mengancam, tapi akhirnya menemukan jalurnya sendiri-sendiri. Menemukan pangsa pasarnya sendiri-sendiri. Kalau kami melihat, kami sendiri mengembangkan dan akhirnya berdamai dengan perubahan itu,” ujar Manajer Toko buku Gramedia Area 4, Guntoro. (art)