SOROT 472

Memilih Mandiri

Penulis buku, Sabiq Carebesth bersama buku karyanya
Sumber :
  • VIVA/Ikhwan Yanuar

Berbeda dengan Sabiq, buku besutan Feby ini lumayan diterima pasar. Buktinya, buku kumpulan cerpennya tersebut sudah terjual sekitar 1.000 buku. “Untuk penjualan secara indie, itu adalah angka yang menggembirakan”.

img_title Dongkrak Literasi Masyarakat hingga Kepedulian terhadap Lingkungan, Begini Strategi Prudential Syariah

Selanjutnya, Tak Hanya soal Royalti

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak Hanya soal Royalti
Sabiq mengakui, kecilnya royalti menjadi salah satu alasan ia menerbitkan dan memasarkan bukunya secara mandiri. Ia menilai, royalti penerbit untuk penulis kecil. 

img_title Jadwal Super League 2026/27 Pekan Kedua: Persija Vs Persib Siap Panaskan SUGBK

Sebab, penerbit harus berbagi keuntungan dengan distributor dan toko buku. Menurut dia, dengan menerbitkan dan menjual buku secara mandiri keuntungannya lebih besar. “Empat kali yang hilang dengan penerbitan konvensional bisa kami kantongi sendiri,” ujarnya.

CEO penerbit Mizan, Yadi Saeful Hidayat, mengatakan, salah satu alasan penulis menerbitkan karyanya sendiri karena faktor kepuasan. Menurut dia, kadang ada penulis yang kalau dimasukkan ke penerbit mayor royaltinya masih menjadi problem dan dianggap tidak berpihak kepada penulis. 

img_title Hyundai Hillstate Sempat Ragu Rekrut Megawati Hangestri, Ini Penyebabnya

Padahal, menurut dia, pihaknya sudah memberi royalti yang besar kepada para penulis. “Setiap penerbit itu punya semacam grade memberlakukan penulis. Range-nya penulis pemula itu dari delapan sampai 10 persen. Paling besar mungkin 15 persen,” ujarnya.

Menurut Irwan Bajang, dengan self publishing, penulis bisa mencetak bukunya sendiri dan mendapatkan royalti jauh lebih besar. Misalnya, harga produksi buku itu rata-rata seperlima dari harga jual. 

Buku harga Rp50.000 itu, harga produksinya Rp10.000 sebenarnya. “Kalau dijual oleh penulis atau penerbit tanpa melalui toko buku kan tidak ada potongan untuk toko buku. Paling kami kasih untuk pembaca (diskon) 10 atau 20 persen itu sudah senang, sisanya itu untuk penulis,” ujarnya.

Sorot Buku - Membaca Buku - Perpustakaan - kios buku - online

Seorang wanita mengakses informasi secara online di sebuah perpustakaan. (REUTERS/Jose Luis Gonzalez)

Ade Maruf mengatakan, royalti hanya salah satu faktor. Menurut dia, ada juga penulis yang berkarya dan menerbitkan karyanya tetap di jalur independen walaupun bukunya diminati banyak pembaca. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penulis enggan ke penerbit dan toko buku bisa juga karena sejak awal ia lebih memperhitungkan potensi jalur online daripada offline konvensional.

“Saya rasa pertimbangan yang penting bagi mereka adalah kemerdekaan dalam berkarya, bebas dari dominasi korporat besar, lepas dari aturan-aturan niaga yang tidak seimbang,” dia menjelaskan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut