- VIVA/Ikhwan Yanuar
“Diskon untuk reseller online di kisaran 25-35 persen. Bandingkan dengan distributor dan toko buku mainstream yang meminta diskon lebih besar dari itu,” dia menjelaskan.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Bentang Pustaka, Salman Farid menilai, fenomena itu terjadi karena para penulis ini tidak ingin proses panjang dan menunggu antrean cetak yang panjang. Sebab, jika tulisan itu masuk ke penerbit, harus ada pembahasan terhadap karya yang ditulis.
Selain itu, para penulis ini mungkin ingin lebih cepat dan jelas secara keuntungan lebih banyak cetak sendiri.
Selanjutnya, Membangun Pasar Sendiri
Membangun Pasar Sendiri
Tak hanya menerbitkan, para penulis ini juga memasarkan karyanya sendiri. Sabiq misalnya. Ia menjual bukunya via online.
Menurut dia, banyak media pemasaran bisa dipakai. “Kalau telaten dan karya kita memang cukup bagus, lebih-lebih telah terbit di koran sebelumnya sehingga cukup memiliki reputasi, dia akan tetap dibeli,” ujarnya.
Sabiq mengerjakan proses penerbitan bukunya secara mandiri, mulai dari menulis, tata letak hingga siap cetak. “Tulisan-tulisan saya kumpulkan, saya layout, saya minta kritikus memberi komentar, kemudian saya ke percetakan dan meminta mereka mencetak. Lalu, saya pasarkan melalui toko online seperti menggunakan social media yang saya punya,” ujarnya.
Ia mengakui, bukunya tak selaris saat dipasarkan oleh penerbit atau mejeng di toko-toko buku. Namun, minimal biaya produksi tertutupi. “Saya rasa tidak selaris dengan diterbitkan penerbit besar. Tapi memilih jalur mandiri tentu sudah tahu risiko ini”.
![]()
Pengunjung melihat buku-buku yang dijual pada pameran buku 'Big Bad Wolf Book Sale' di JX International, Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Feby juga melakukan hal yang sama. Ia mengaku belum mampu memasukkan bukunya ke toko buku besar. Alasannya, potongannya besar. “Periplus pasang 60 persen, Gramedia 40 persen,” dia menuturkan.
Selain itu, kalau masuk ke toko butuh stok barang besar. Sementara itu, bukunya tak dicetak banyak dan harus diputar. “Aku banyak terlibat langsung untuk mempromosikan dan menjual BPM,” dia menambahkan.
Ia memasarkan bukunya lewat media sosial, jualan langsung di event yang terkait, misalnya ASEAN Literary Festival atau bekerja sama dengan komunitas lokal, toko buku online, dan toko buku alternatif, seperti Galeri Salihara, Kineruku di Bandung.