- ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Pemeriksaan sekilas pada fisik buku itu tampak tak ada yang berbeda. Tapi jika dilihat lebih saksama, permukaan sampul bukunya rata, tak ada bagian yang timbul pada cetakan huruf-huruf judulnya. Kertas pada bagian isi novel itu berbahan kertas buram. Tinta pada tulisan juga terlihat pudar di sejumlah halaman.
Bajakan alias Aspal
Buku-buku sejenis di kios Mul dapat ditemui di beberapa lapak lain pada kompleks sentra buku seluas sekira lapangan sepak bola yang terletak di Jalan Semarang itu. Namun tak ada yang memberikan penjelasan lebih terang sebab harga buku-buku semacam itu lebih miring.
Penjelasan agak terang diperoleh VIVA dari seorang pedagang buku yang biasa berburu di Kampoeng Ilmu, sebut saja inisialnya SN. Dia sudah malang-melintang di dunia perbukuan sejak 1990-an, di Jakarta, Yogyakarta, dan kini membuka lapak di sebuah kampus perguruan tinggi di Surabaya.
SN mengakui bahwa jalur dagang ilegal di dunia buku bukan perkara baru. Dia juga kadang bersentuhan bila ada pesanan dari luar. Dia bercerita pengalamannya memborong buku Kamus Bahasa Inggris karya John M Echols. "Pesanan orang,” katanya memulai berkisah saat ditemui VIVA pada Kamis, 26 Oktober 2017, “saya carikan di Jalan Semarang."
Untuk memenuhi pemesan, SN mengaku mencari kamus John Echols di lapak-lapak pedagang buku di Jalan Semarang. Harga buku orisinal kamus itu Rp102 ribu, namun si pemesan bilang ada yang berbanderol Rp40 ribu. Dia menyanggupi karena pesanan cukup banyak dengan kualitas lumayan. “Saya dapatnya di Jalan Semarang," katanya.
Soal jalur buku bajakan, SN menyebut dua jalur, yakni jaringan Yogyakarta dan Malang. Dari dua jalur itu, dia mengaku terkadang membeli di Yogyakarta jika ada yang memesan, itu pun untuk buku terbitan luar negeri. Dia tak berani memesan buku-buku terbitan dalam negeri yang kategori bajakan dari Yogyakarta, karena kualitasnya nyaris menyerupai produk asli. Para pedagang, katanya, biasa menyebut produk itu sebagai “aspal”, akronim dari asli tapi palsu.
Sedangkan buku-buku imitasi yang beredar di Surabaya, SN mengaku tidak tahu persis dari mana. Tetapi dia sering mendengar dari sesama pedagang bahwa buku di Jalan Semarang kebanyakan disuplai dari jaringan Malang.