- ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Seorang pedagang berinisial AS, yang ditemui pada Kamis lalu, awalnya ragu-ragu mengakui keberadaan buku-buku bajakan di kompleks Kwitang. Tapi dia akhirnya menyingkap sedikit dengan menyebut istilah KW. Jumlah sebenarnya tak banyak. Dia bilang “ada beberapa” meski tak diperinci kisarannya. Sebagian besar konsumennya adalah kalangan mahasiswa yang berburu buku murah, rata-rata untuk keperluan tugas reguler kuliah atau tugas akhir semacam skripsi.
Pria berusia 49 tahun itu, dengan rona seolah memohon dimaklumi, bahkan berani menyebut hampir semua pedagang buku di Jakarta pastilah menjual sekurang-kurangnya lima-sepuluh eksemplar buku KW. “Kalau kita tidak jual buku (KW) itu,” ujarnya berkilah, “gimana mau pelaris.” Lagi pula umumnya cuma buku-buku literatur kuliah, dan rata-rata hanya satu-dua judul.
![]()
Sentra buku Kampoeng Ilmu di Surabaya. (VIVA/Nur Faishal)
Pasokan buku-buku aspal itu, menurut AS, serupa dengan pola yang terjadi di Kampoeng Ilmu Surabaya atau Shopping Center Yogyakarta. Semua buku, produk bajakan atau orisinal, disuplai oleh distributor atau langsung dari penerbit. Khusus di Kwitang, katanya, biasanya bukan langsung distributor, melainkan melewati agen satu ke agen lain. Ketika sampai di lapak pedagang di Kwitang, biasanya sudah dari agen kedua atau ketiga.
Dapat dimengerti kala AS menyebut produk bajakan itu sebagai semacam pelaris. Alasan utamanya jelas harga yang jauh lebih murah dibanding buku-buku orisinal. Buku-buku orisinal literatur kuliah, AS mencontohkan, harganya bisa lebih seratus ribu. “Harga buku KW itu paling mahal tiga puluh lima ribu,” katanya.
Dia menolak menyebutkan contoh judul-judul buku yang biasanya muncul bajakannya, tapi rata-rata buku rujukan kuliah bagi mahasiswa semester satu sampai semester lima. Jadi, katanya, tak semua jenis atau judul buku yang dibajak karena mempertimbangkan permintaan pasar. Si pembajak pun, dia menganalisis, tak mungkin membajak semua buku tanpa memperhitungkan laku atau tidak. Biaya produksi membajaknya saja tidak murah, tapi “lakunya belum tentu, kan.”
AS berterus terang sering digelar razia buku-buku KW di Kwitang tapi pedagang sudah punya pola sendiri untuk menyiasatinya. Biasanya, buku-buku aspal diselipkan di antara buku-buku orisinal, terutama produk bekas. “Jadi tidak mudah terdeteksilah, kan, bercampur di sini.” Jumlahnya pun tak banyak, paling banyak sepuluh persen dari buku-buku asli.