- ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
Kawasan ini merupakan yang terbesar di Kalimantan Barat dengan luas kurang lebih 816.000 hektare. Kawasan ini memiliki berbagai jenis ekosistem, termasuk hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan lumut.
Ketinggian kawasan terletak antara 300-1.960 meter di atas permukaan laut. Taman Nasional Betung Kerihun bertopografi perbukitan dengan empat aliran sungai (DAS) yang mengelilinginya, yaitu Mendalam, Kapuas, Sibau, dan Embaloh.
Keinginan menjadikan TNBKDS sebagai destinasi ekowisata (ecotourism) untuk turis domestik dan mancanegara muncul setelah pemerintah RI terus menggenjot devisa dari sektor pariwisata. Pemda Kapuas Hulu lalu mengenalkan rencana ini melalui Festival Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum.
![]()
Perahu hias Suku Dayak Tamambaloh berlayar melintas di Danau Sentarum pada acara penutupan Festival Danau Sentarum Betung Kerihun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. (ANTARA FOTO/Timotius)
Festival untuk mengenalkan wisata alam Betung Kerihun dan Danau Sentarum ini diluncurkan pada Mei 2017. Festival ini bukan yang pertama dan sebelumnya sudah beberapa kali diselenggarakan.
Tapi, pelaksanaan tahun ini adalah yang terbesar dan melibatkan banyak pihak termasuk kelompok Non-Governmental Organization (NGO). Pelaksanaan tahun ini juga diniatkan untuk mempromosikan pariwisata Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum secara nasional.
“Betung Kerihun dan Danau Sentarum adalah ikon Kapuas Hulu. Kami ingin mempromosikan potensi wisata yang ada di Kapuas Hulu. Kami juga ingin mengawal program pemerintah untuk mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan lokal dan mancanegara,” ujar Munawir, kepala bidang TNBKDS.
Munawir juga mengatakan, rencana itu telah melibatkan berbagai pihak, termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hal yang akan dijual sebagai daya tarik wisata Betung Kerihun adalah alam liar. “Potensinya adalah petualangan ke alam liar, camping ground, pengamatan satwa liar, dan budaya,” ujar Munawir .
Ia menyebutkan, di antara LSM yang ikut ambil bagian dalam promosi wisata dan pelestarian alam di taman nasional adalah Sintang Centre, yang menjadi mitra untuk pelestarian orang utan, WWF Kalimantan Barat, dan Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (Kompak).
Mereka, bersama pemerintah daerah dan LSM lainnya bekerja sama membangun wisata alam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mentibat dan Sungai Pari.