- ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
“Kami tak akan menyentuh zona inti. Karena itu adalah jantungnya Borneo. Kami semua sadar, zona inti itu wajib dijaga. Wilayah ini adalah hulu Sungai Kapuas yang menghidupi kota Pontianak," Mustarrudin ikut menambahkan.
Jika hulu rusak, Pontianak juga rusak. Jika hulu hancur, seluruh kota Pontianak juga akan hancur, bahkan seluruh dunia bisa ikut hancur. "Karena sampai sekarang, sebutan Kalimantan sebagai paru-paru dunia masih bertahan,” tutur Mustarrudin.
![]()
Kawasan konservasi hutan di Taman Nasional Betung Kerihun, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. (VIVA/Endah Lismartini)
Menyadari potensi wisata dan keinginan untuk tetap menjaga kelestarian kawasan konservasi membuat Pemerintah Daerah Kapuas Hulu aktif melibatkan masyarakat untuk ikut menjaga sekaligus mendapat keuntungan dari taman nasional.
“56 persen dari kawasan Kapuas Hulu adalah kawasan lindung, jadi di dalamnya ada hutan lindung dan taman nasional. Pemerintah daerah tak sanggup mengelola sendiri karena terbatas sumber daya manusia dan dana. Jadi kami mengelola kawasan dengan mengajak masyarakat, NGO, dan pemerintah setempat,” ujar Munawir.
Munawir mengatakan, untuk pengelolaan ini, pengelola sudah bekerja sama dengan 17 mitra. Kesepakatan ditandatangani di pemerintah pusat, dengan klausul yang sudah disepakati.
“Paradigma kami untuk mengelola taman nasional memang harus diperbaiki. Pemerintah dan masyarakat punya peran aktif, sedangkan NGO sifatnya adalah supporting,” ujarnya.
Munawir mengakui, wilayahnya membutuhkan sentuhan dari pemerintah pusat. Bagaimana pun, pengembangan infrastruktur di Kapuas Hulu juga penting untuk menunjang pariwisata.
Ia berharap, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersedia memberi dukungan, karena untuk infrastruktur tak bisa bergantung kepada NGO. Bukan ranah NGO membangun infrastruktur.
Bupati Kapuas Hulu, M Nasir, juga menegaskan hal yang sama. Tak hanya berharap lirikan dari pemerintah pusat, M Nasir juga mengatakan Kapuas Hulu terbuka untuk swasta yang ingin berinvestasi.
“Silakan, kami akan sangat membuka diri pada swasta yang ingin berinvestasi. Misalnya membangun hotel, mengembangkan kawasan untuk memikat wisatawan dan tentu melibatkan masyarakat,” ujarnya.
M Nasir mengakui, pemda perlu mengedukasi masyarakat agar ramah wisatawan. Ia tak ingin warga menjebak turis yang datang dan membuat wisatawan kapok.