- ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
Munawir yakin, TNBKDS mampu bersaing dan menjadi destinasi wisata utama seperti Dieng dan Pulau Komodo. Sebab, ujar Munawir, kawasan ini juga memiliki kelebihan dengan ratusan spesies tanaman, satwa liar, dan lokasinya tak terlalu jauh dari kota Putussibau, kota besar di Kapuas Hulu. Hanya sekitar tiga jam perjalanan dari Putussibau menuju pusat hutan tropis itu.
Tapi, pengunjung harus bersiap, ketika perjalanan semakin menuju pelosok, maka sinyal ponsel tak lagi bisa dijangkau. Itu artinya, hubungan dengan dunia luar untuk sementara terputus. Penting bagi pengunjung untuk memberitahu orang atau keluarga terdekat agar mereka tak kebingungan mencari ketika komunikasi benar-benar tak tersambung lagi.
Sebelum mencapai DAS Mentibat dan Sungai Pari, sebagai bagian dari wisata budaya, pengunjung akan diajak singgah ke Rumah Betang Semangkok. Rumah Betang Semangkok adalah rumah khas suku Dayak yang sudah berusia ratusan tahun. Rumah Betang Semangkok didirikan pada 1814.
Kayu jenis ulin yang menjadi penyangganya tak pernah diganti sejak rumah panjang itu berdiri. Ada enam kayu ulin dengan diameter 40-50 sentimeter yang kokoh menyangga rumah itu.
Awal didirikan, tinggi rumah Betang Semangkok dari permukaan tanah mencapai 20 meter. Kini, tingginya hanya sekitar tujuh meter dari permukaan tanah.
Di rumah Betang Semangkok, pengunjung bisa berbincang-bincang dengan warga dari suku Dayak yang masih menghuni rumah tersebut. Pengunjung juga bisa membeli hasil kerajinan mereka, seperti kalung, gelang, atau hasil tenunan dan anyaman.
Setelah dari rumah Betang Semangkok, perjalanan akan dilanjutkan menuju jantung Borneo. Bersampan sambil menikmati pemandangan alam menuju taman nasional hutan Betung Kerihun.
“Wisatawan akan diajak masuk ke dalam kawasan taman nasional. Untuk urusan konservasi alam, kawasan taman nasional memiliki level lebih tinggi dari hutan lindung,” tutur Badrul Arifin, pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNBKDS.
Badrul menjamin pengunjung kawasan taman nasional Betung Kerihun akan mendapat kesan luar biasa. “Alamnya masih sangat alami, airnya bersih dan bisa langsung diminum. Di tengah hutan, sudah tak ada lagi kehidupan manusia, maka dijamin tak akan ada limbah rumah tangga,” celotehnya sambil mengambil air sungai menggunakan telapak tangan dan langsung meminumnya.
“Jika beruntung, bisa menemukan satwa khas Betung Kerihun,” dia menambahkan.