- REUTERS/Beawiharta
“Tidak hanya hutan lindung ya, tapi juga masuk ke kawasan hutan konservasi yang sebetulnya tidak boleh dieksploitasi, tetapi pertambangan tetap masuk,” ujarnya kepada VIVA, Jumat, 3 November 2017.
Menurut dia, kebijakan itu membuat penetapan sebuah kawasan sebagai kawasan hutan lindung akhirnya tidak jelas. “Jadi, menurut saya ada ketidakpastian dari pendefinisian terhadap fungsi hutan lindung maupun hutan konservasi yang dimiliki oleh pemerintah,” ujarnya.
“Ada satu peraturan yang menyatakan bahwa setiap hutan itu harus memiliki wilayah tutupan hutan sekian persen dari luas wilayah. Tapi sejak pertambangan masuk, perkebunan sawit masuk, dan seluruh investasi penggunaan lahan skala besar itu masuk, itu menjadi salah satu pemicu atau penyebab jumlah luasan hutan kita di seluruh Indonesia itu menyusut. Dan itu terjadi secara signifikan.”
![]()
Sebuah rumah berada di tengah hutan yang telah ditebang di Provinsi Riau. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) enggan berkomentar saat dimintai tanggapan terkait kerusakan hutan akibat ekspansi perkebunan dan tambang. Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), Putera Prathama, hanya mengatakan kaitan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan sawit hanya soal penyediaan lahan dan Analisis Dampak Lingkungan atau AMDAL.
“Keduanya adalah fungsi Planologi. Sedangkan kita nggak ada sama sekali urusan sama sawit,” ujarnya ketika dikonfirmasi VIVA. “Maksimum interaksinya berupa adanya sawit-sawit ilegal di dalam konsesi. Itu pun sekarang jadi urusan penegak hukum. Jadi Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari memang benar-benar lepas dari urusan sawit.”
Sementara, Kepala Biro Humas KLHK, Djati Witjaksono Hadi, cuma merespons bahwa semua kegiatan pasti memiliki dampak. “Tinggal dampak pentingnya atau tidak, seberapa besarnya, berdasarkan pengkajian,” ujarnya kepada VIVA, Jumat, 3 November 2017.
Ia mencontohkan, kalau lahan kosong jadi kebun sawit itu positif. Tapi kalau ada lahan hutan primer yang diubah jadi agrikultur pasti ada dampak negatifnya. Sementara, saat diminta tanggapan terkait tudingan bahwa perkebunan sawit merusak hutan dan lingkungan, Fadhil Hasan hanya menjawab singkat bahwa itu adalah isu lama. “Isu lama itu bikin lagi yang baru,” ujar Direktur Eksekutif GAPKI ini.