- ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Dalam kasus ini, polisi menyita dua senjata api yang diduga dipakai Helmi untuk menghabisi Lety. Dua senjata api tersebut merupakan senjata rakitan jenis revolver dan FN.
Helmi mengakui jika dua senjata itu didapatnya dengan cara dibeli dari dua penjual berbeda, seharga Rp45 juta. Satu pistol FN dibeli melalui transaksi jual beli online dengan pria berinisial S. Satu pistol Revolver dibeli dari seseorang melalui Facebook.
"Akunnya sudah diserahkan ke kami tapi penjual senpi (senjata api) kan tidak semudah itu. Tidak yang bersangkutan menjual di akun dan langsung menyerahkan begitu, masih kami dalami," kata Kasubdit Jatantas Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Hendy F Kurniawan, Senin, 13 November 2017.
Kasus dokter Helmi itu hanya sebagian kecil dari peristiwa kekerasan dengan senjata api. Maraknya senjata rakitan, misalnya, diduga karena masih bermunculannya home industry pembuat senjata rakitan. Belum lagi, tersedianya penjualan senjata rakitan secara online.
Soal senjata rakitan yang banyak beredar, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Polisi Rikwanto tak menampiknya. Jenis senjata tersebut diduga merupakan senjata yang paling banyak digunakan dalam aksi kriminalitas.
Lantaran itu, petugas pun membidik untuk memberantas senjata rakitan. Beberapa waktu lalu, polisi pun menggerebek home industry senjata di Bandung, Sumedang, Cipacing, Lampung, dan Sulawesi Selatan.
“Itu sudah kami tangkap-tangkapin. Kalau sekarang ada lagi, berarti ada lagi home industry yang membuat. Ini siapa? Nanti kami telusuri,” ujarnya.
Jejak Senjata Api
Namun, senjata api seolah masih begitu mudah didapat. Sejumlah pelaku kejahatan disinyalir memakai senjata api rakitan saat beraksi. Kasus perampokan sepeda motor di sebuah rumah di Karawaci, Tangerang, pada 12 Juni 2017, misalnya.
Saat itu, Italia Chandra Kirana, anak pemilik rumah, memergoki pelaku hendak mengambil sepeda motornya. Pelaku lantas menembak wanita 23 tahun itu hingga tewas.
Pelaku utama yang menjadi eksekutor penembak Italia, yakni Saiful ditembak mati oleh polisi di tempat persembunyiannya di Lematang, Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, pada 10 Juli 2017 sekira pukul 14.00 WIB.