- VIVA/Purna Karyanto
Sumiati menuturkan, warga ingin membuat permukiman mereka menjadi kampung yang rapi, meski berada di bantaran kali. “Kita ingin pemerintah melihat, bahwa kampung ini bisa menjadi kampung yang rapi, bersih, dan cantik,” ujar ibu tiga anak ini.
Agar Tak Digusur
Ia menjelaskan, permukiman yang terletak di bibir kali tersebut sebenarnya menjadi salah satu target penggusuran terkait normalisasi kali. Warga berharap, keberadaan kampung warna warni membuat pemerintah menimbang ulang rencana menggusur permukiman mereka.
Perempuan yang aktif di FAKTA ini mengatakan, sudah banyak orang yang datang ke kampung ini. Mereka tak hanya berasal dari seputaran Ibu Kota, namun juga dari luar Jakarta. Bahkan ada yang dari luar negeri. Meski demikian, warga tak memungut tiket masuk laiknya kampung warna warni di tempat lain. Sebaliknya, warga kerap memberikan souvenir kepada pengunjung yang datang.
![]()
Sumiati, inisiator kampung warna-warni di Penas Tanggul, Jakarta Timur. (VIVA/Purna Karyanto)
Ia mengakui, warga sudah memiliki rencana. Nantinya, jika kampung mereka sudah jadi destinasi wisata, mereka akan memungut tiket masuk. Apalagi rencananya, akan ada wisata sungai yang melintasi permukiman mereka. “Katanya, Dinas Lingkungan Hidup akan memberikan tiga perahu untuk wisata air. Nah, dari situ kita punya rencana memberlakukan tiket wisata air. Atau kalau ada kunjungan ke sini mungkin ke depannya bisa memberlakukan ticketing.”
Nobby Sail Andi Supu (23) menambahkan, pada 12 Maret tahun lalu, warga patungan guna membenahi kampung. Tahap pertama, warga membangun gapura sebagai pintu masuk. Setelah itu, warga mewarnai tembok dan dinding rumah. “Siapa yang mengecat, dan lain sebagainya itu warga semuanya bekerja sendiri. Yang ngecat itu warga, yang melukis itu warga,” ujar ketua Karang Taruna RT 015/RW 002 ini.
Sejak menjadi kampung warna warni, warga mulai menata permukiman mereka dengan baik. Salah satunya, saat membangun tidak memakan badan kali. Selain itu, semangat gotong royong warga juga terus menguat. “Jadi semangat gotong royongnya, semangat kebersamaannya jauh lebih tinggi,” ujar mahasiswa semester akhir salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta ini.