SOROT 482

Dilabur agar Tak Digusur

Suasana kampung Penas Tanggul yang berada di Jalan Pancawarga, Jakarta Timur
Sumber :
  • VIVA/Purna Karyanto

Sumiati sendiri sempat sakit paru-paru dan harus berobat selama sembilan bulan karena menjadi perokok pasif. “Saya terkena asap dan saya sakit paru-paru sampai harus berobat sembilan bulan. Dan suami saya sendiri juga sekarang berobat juga, karena paru-paru. Jadi ini yang membuat saya semangat bahwa rokok itu berbahaya untuk kesehatan,” ujarnya mengenang.

img_title Pemkot Bandung Larang Warga Merokok di Jalan Braga

Namun, membuat KTR tak semudah menciptakan kampung warna warni. Ia mengaku sudah melakukan sosialisasi soal bahaya merokok sejak 2012 lalu. Tak hanya sosialisasi, untuk meyakinkan warga, ia juga membawa para korban rokok untuk menyampaikan testimoni. “Kita juga membuat survei kecil-kecilan bersama warga. Membuat pertanyaan kepada warga di sini, apakah warga di sini setuju rumahnya bebas dari asap rokok,” ujarnya menjelaskan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sorot Kampung Warna Warni

img_title Ketika Zona Hitam Kampung Bandit Disulap Jadi Pink Cantik

Warga beraktivitas di Kampung Warna-Warni Penas Tanggul, Cipinang Besar Selatan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Ia melakukan survei beberapa kali. Hingga seratus persen warga setuju kampungnya bebas dari asap rokok. Pasalnya, membuat warga sadar akan bahaya asap rokok bukan perkara gampang. “Membuat agar warga sini sadar akan bahaya asap rokok tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ujarnya.

img_title Kreatif Saat Wabah Corona, Warga Ini Sulap Gang Sempit jadi Indah

Menurut Sumiati, awalnya warga menolak. Ia bahkan dimarahi suaminya. Warga menolak karena menganggap mereka dilarang merokok. “Padahal kita sama sekali melarang mereka untuk merokok. Kita hanya melarang mereka merokok di dalam rumah. Jadi kita hanya memindahkan orang yang merokok di dalam rumah itu menjadi keluar rumah,” ujarnya menambahkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Guna memastikan kesepakatan itu dijalankan, warga menetapkan ibu-ibu untuk menjadi polisi yang mengawasi. “Yang bertugas menjadi polisinya itu ibu-ibu. Ibu-ibu kan setiap hari ada di rumah. Kalau bapak-bapaknya kan rata-rata kerja. Jadi kalau ada tamu atau siapapun merokok di sini, ibu-ibu yang bertugas menjadi polisi KTR itu yang menegurnya.”

Nobby menambahkan, saat ini mereka memang menyediakan lokasi untuk merokok. Namun ke depannya, lokasi merokok itu akan dihilangkan. Menurut dia, tahap pertama warga tidak boleh merokok di dalam rumah dan di sekitar teras rumah. Setelah itu berjalan, warga tidak boleh merokok di jalan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut