- VIVA/Purna Karyanto
“Kita sediakan smoking area di dua tempat untuk warga yang ingin merokok. Nanti pada tahap berikutnya, smooking area itu akan kita kurangi, yang tadinya ada dua menjadi satu, dan pada akhirnya akan kita hilangkan. Jadi kalau memang ada yang ingin merokok, ya silahkan keluar dari lingkungan kampung ini,” ujarnya.
Usaha itu pun berbuah. Sejumlah warga akhirnya memutuskan untuk berhenti merokok. Ahmadi salah satunya. Warga yang berprofesi sebagai kuli bangunan ini mengatakan, sebelumnya ia adalah perokok berat. Namun, sejak ada KTR ia memutuskan berhenti merokok. “Sekarang di sini sudah ada larangan merokok. Jadi gak enak saja kalau merokok dengan yang lainnya. Kalau mau merokok juga jauh,” ujarnya.
Usaha Swadaya
Sumiati menuturkan, warga membangun kampung warna warni tanpa rokok secara swadaya. Ia mengakui, memang ada bantuan dari perusahaan BUMN dan swasta. Namun jumlahnya tak seberapa. “Warga sendiri. Setiap hari Minggu kita sering kerja bakti,” ujarnya.
Menurut dia, sejauh ini dukungan dari pemerintah hanya sebatas kata-kata. “Camat, lurah sih datang ke sini. Dia hanya menyemangati warga saja. Tapi kalau support dana tidak ada. Sejauh ini ini dari swadaya masyarakat saja.”
Hal itu diakui Ketua RW 002, Sumardiyono. Menurut dia, biaya untuk membuat kampung warna warni merupakan swadaya masyarakat. “Biayanya itu swadaya masyarakat sendiri. Ada yang 200 ribu, ada 100 ribu, 300 ribu. Warga mengumpulkan seadanya,” ujarnya.
![]()
Warga beraktivitas di Kampung Warna-Warni Penas Tanggul, Cipinang Besar Selatan, Jakarta. (VIVA/Purna Karyanto)
Menurut dia, memang ada bantuan dari luar, namun tidak banyak. Lebih banyak dana dari warga sendiri. “Itu karena memang warganya kompak,” ujarnya menambahkan.
Saat ditanya bantuan dari pemerintah, pria asal Yogyararta ini hanya tertawa. “Bantuan dana dari pemerintah? Paling bantuan doa,” ujarnya seraya tertawa. “Tidak ada. Selama ini itu hasil dari swadaya masyarakat saja,” ujarnya.
Sumiati mengakui, dana menjadi salah satu kendala untuk pengembangan kampung warna warni. Selain itu, semangat warga yang naik turun juga jadi penghambat. “Kita sebagai tim terus melakukan upaya menyemangati warga agar tetap menjaga kampung ini tetap bersih, rapi dan terjaga. Tujuannya agar kampung ini tidak jadi digusur,” ujarnya.