Gundala Beda dari Film Marvel dan DC
- VIVA/Yasmin Karnita
Tapi, apa chemistry yang membuat BumiLangit, studio, dan Joko Anwar klik?
Nah, ini yang aneh banget, karena saya ketemu Pak Wiki karena dia produser, dan saya udah pernah nulis beberapa kali untuk Screenplay. Kalau Pak Koko baru sekali, bertiga ketemu tuh ngobrolnya lancar banget, visinya sama, karena kita mau bikin Gundala yang masih memiliki akar yang diciptakan Pak Hasmi, tapi memiliki sensibilitas yang cocok untuk penonton Indonesia sekarang.Â
Kalau zaman dulu kita enggak bisa ngomong langsung, misalnya sebagai seorang penulis kalau kita mau bikin kritik sosial atau terhadap pemerintah dulu enggak mungkin, makanya dilampiaskan ke hal lain, misalnya makhluk luar angkasa.
Tapi karena kita sekarang di zaman keterbukaan, kita bisa meng-address masalah yang relevan dengan situasi Indonesia sekarang, sosial dan politik. Di Gundala kita punya kesempatan untuk itu. Bikin sebuah cerita jagoan yang karakternya masih sesuai dengan komik tapi dengan permasalahan yang relevan dengan Indonesia zaman sekarang, lebih membumi.
Proses pembuatan skenario kabarnya alot banget?
Oh ya, skenario Gundala adalah skenario paling susah yang pernah saya tulis. Berbulan-bulan. Dua tempat yang paling menarik buat saya itu karena sangat damai itu ada dua, museum dan kuburan. Jadi saya menulis di museum dan kuburan. Dan penulisan skenario ini terakhir di museum di Amsterdam. Jadi selama dua hari tuh saya ngetik tuh terakhir di sana.Â
Kuburannya di mana?
Di Indonesia susah karena panas. Ngetiknya susah. Tapi ada kuburan di Indonesia yang enak banget itu deket Tanah Kusir. Ada tamannya banyak anak-anak jalan, main-main, di taman tapi ada rel kereta api. Unik, ada yang stay, ada yang pergi.
Lalu Abimana, Sejak pertama kali diperkenalkan sebagai Gundala, reaksi publik cukup positif. Respons Abimana sendiri bagaimana?
Ya senenglah pasti, karena berarti hasil kerja kita dampaknya positif bagi banyak orang. Pertama kali langsung nanya ke Bung Joko, satu kata dari dia sih, 'Berasa bikin film ya kita. Seneng ya, bahagia.' Rasa itu yang udah lama saya kejar.Â