Tawaf Wada

Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background Masjidil Haram.
Sumber :
  • tim tvonenews.com

Setelah hampir dua pekan mendaki puncak spiritual, akhirnya saya dan jamaah haji pada umumnya, harus  mengalami momen ini: tawaf wada, tawaf perpisahan. Setiap orang yang tengah jatuh cinta, akan terasa sesak ketika harus mengalami perpisahan.

img_title Ijazah Gibran, Jangan Buka Kotak Pandora

Saya memandang sekeliling, ribuan orang di sekitar saya tampak seperti linglung. Mata mereka menatap seolah tak ingin berkedip hanya pada satu titik, multazam atau Baitullah. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada garis lurus ini, tiba tiba semua perjalanan haji terkenang lagi, sejak keberangkatan di tanah air, tiba di Tanah Suci Madinah, ziarah ke makam Nabi Muhammad saw, bertolak ke Tanah Suci Mekkah, melakukan tawaf, sai, wukuf di arafah hingga jumrah, dan kini tiba-tiba harus berpisah. Siapa yang tidak kehilangan? Saya memandang ke langit, gerombolan burung terbang berputar putar mengelilingi Kabah. Mereka seperti memberi pesan, kami tak akan lelah lelah mengitari pusat alam semesta ini.

img_title Arab Saudi Bantah Ada Bom Bunuh Diri di Masjidil Haram, Benarkan Pria Ditangkap

Tiba tiba tanpa dikomando, mata hangat oleh air yang merembes perlahan tanpa bisa ditahan. Sebagian tampak memegangi apapun yang bisa diraih, tembok dinding kabah, hajar aswad, kiswah, atau apapun yang bisa diraih, sambil tersedu, (saya melihat beberapa yang menangis berlebihan, seperti meraung raung  sampai harus ditegur askar). 

img_title Usia Baru 1 dan 4 Tahun, Kisah Dua Bocah Berangkat Umrah Curi Perhatian

Dengan hawa emosional itu, saya melanjutkan tawaf perpisahan ini, berputar tujuh kali mengelilingi Ka'bah tanpa harus sai, sambil berdoa dan lumayan bercucuran air mata. Ada  perasaan sedih dan lega bersamaan: akan pergi meninggal Tanah Suci dan yakin tetap akan kembali kelak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tetap berada di Masjidil Haram, memandang Kabah sebisanya, sejelas jelasnyanya, sedekat dekatnya di hari hari setelah 9 Dzulhijjah, setelah melawati puncak dari rangkaian ibadah yang cukup berat secara fisik, jauh dari tanah air dan keluarga, bukan perjuangan mudah. Sebagian jamaah mungkin merasa sesekali menghibur, menyenangkan diri dengan tawaf di Menara Zam Zam atau Abraj Al Bait, bangunan megah hotel dan mall, dilengkapi dengan jam raksasa yang terletak persis di gerbang King Abdul Aziz Gate tak  ada salahnya.  

Setelah 9 Dzulhijjah, ribuan jamaah yang sibuk “tawaf” di pusat perbelanjaan semakin ramai. Apalagi dari Menara Zam Zam, Kabah juga terlihat jelas. Penguasa Mekkah memang terus membangun ikon ikon baru, berupa mall dengan ukuran bangunan gigantik, yang bagi saya, terasa seperti ingin “menyaingi” Ka'bah. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut