Merenggut Kembali Muruah Jurnalisme
- ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
![]()
Sejalan dengan Presiden Joko Widodo. Meski kini tak bisa ditampik lagi betapa melimpahnya informasi di publik lewat beragam saluran, khususnya di internet.
Jokowi tetap meyakini bahwa itu bukanlah hal yang harus ditakuti. Pers nasional lewat tangan media, tetap harus menjadi pilar penegak kebenaran, fakta, dan aspirasi.
"Justru pers makin diperlukan. Pers turut membangun narasi kebudayaan baru, memotret masyarakat yang bergerak begitu cepat," ujarnya.
Ya, seperti di awal, diakui memang media sosial kini telah merenggut apa pun, termasuk jurnalisme, yang kini mesti kehilangan otoritasnya dalam pendistribusian produk jurnalistik.
"Penerbit berita telah kehilangan kontrol atas distribusi beritanya. Semua disaring lewat algoritma dan platform yang tidak dapat diprediksi," ujar Emily Bell, Direktur Tow Center untuk Jurnalisme Digital di Universitas Columbia dalam pidatonya di Cambridge.
Melawan Hoaks
![]()
Apa pun itu, hoaks atau kebohongan memang mesti dilawan. Pers jelas memiliki peranan itu untuk mencerahkan.
Tanpa pers yang masih memegang tonggak verifikasi, maka kekacauan yang beranak pinak di media sosial dan sejumlah situs penebar kebohongan akan menjadi-jadi.
"Pers diharapkan bisa menjadi penyaring," ujar Ketua MPR Zulkifli Hasan.
Ya, siap atau tidak, meski kini pers memang tengah digulung sihir media sosial yang menelan jurnalisme, pencerahan untuk publik tetap menjadi misi pers yang harus dijalankan hingga kiamat.
![]()
Namun memang, pers kini mesti berbenah jauh lebih baik. Jika dahulu menjadi sumber informasi absah publik, maka kini mungkin tak berlaku lagi.
Pers mesti bertransformasi menjadi sebuah karya jurnalisme yang kekinian, dibekali jurnalis yang mumpuni dan piawai dalam segala kecanggihan teknologi.
Tak cuma itu, jika dahulu pers lah yang menjadi anjing penjaga, maka kini, semua termasuk pembaca, pendengar, penonton adalah juga penjaga. "Produk pers harus menjadi penuntun akal," ujar Kovach seperti dikutip dalam bukunya.
Ya, hoaks memang buruk buat siapa pun. Namun jurnalisme yang memproduksi hoaks jauh lebih berbahaya dari itu semua.