Merenggut Kembali Muruah Jurnalisme

Aksi kampanye anti-hoax di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

Presiden Direktur VIVA Media Group, Anindya Novyan Bakrie, dalam forum Konvensi Nasional Media Massa di Padang, Sumatra Barat, pada Kamis 8 Februari 2018.

img_title Mandra Digosipkan Meninggal Dunia, Keluarga Ngamuk

Sejalan dengan Presiden Joko Widodo. Meski kini tak bisa ditampik lagi betapa melimpahnya informasi di publik lewat beragam saluran, khususnya di internet.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jokowi tetap meyakini bahwa itu bukanlah hal yang harus ditakuti. Pers nasional lewat tangan media, tetap harus menjadi pilar penegak kebenaran, fakta, dan aspirasi.

img_title Aksi Tari Topeng Kelana Gandrung Ramaikan Hari Pers Nasional 2022

"Justru pers makin diperlukan. Pers turut membangun narasi kebudayaan baru, memotret masyarakat yang bergerak begitu cepat," ujarnya.

Ya, seperti di awal, diakui memang media sosial kini telah merenggut apa pun, termasuk jurnalisme, yang kini mesti kehilangan otoritasnya dalam pendistribusian produk jurnalistik.

img_title Hari Pers Nasional 2022, Jokowi Terbuka Terima Kritikan

"Penerbit berita telah kehilangan kontrol atas distribusi beritanya. Semua disaring lewat algoritma dan platform yang tidak dapat diprediksi," ujar Emily Bell, Direktur Tow Center untuk Jurnalisme Digital di Universitas Columbia dalam pidatonya di Cambridge.

Melawan Hoaks

Ilustrasi/Kabar hoax

Apa pun itu, hoaks atau kebohongan memang mesti dilawan. Pers jelas memiliki peranan itu untuk mencerahkan.

Tanpa pers yang masih memegang tonggak verifikasi, maka kekacauan yang beranak pinak di media sosial dan sejumlah situs penebar kebohongan akan menjadi-jadi.

"Pers diharapkan bisa menjadi penyaring," ujar Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Ya, siap atau tidak, meski kini pers memang tengah digulung sihir media sosial yang menelan jurnalisme, pencerahan untuk publik tetap menjadi misi pers yang harus dijalankan hingga kiamat.

Namun memang, pers kini mesti berbenah jauh lebih baik. Jika dahulu menjadi sumber informasi absah publik, maka kini mungkin tak berlaku lagi.

Pers mesti bertransformasi menjadi sebuah karya jurnalisme yang kekinian, dibekali jurnalis yang mumpuni dan piawai dalam segala kecanggihan teknologi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak cuma itu, jika dahulu pers lah yang menjadi anjing penjaga, maka kini, semua termasuk pembaca, pendengar, penonton adalah juga penjaga. "Produk pers harus menjadi penuntun akal," ujar Kovach seperti dikutip dalam bukunya.

Ya, hoaks memang buruk buat siapa pun. Namun jurnalisme yang memproduksi hoaks jauh lebih berbahaya dari itu semua.

Sarwendah

Sarwendah Kasih Waktu 3x24 Jam Buat Netizen yang Disomasi Minta Maaf, Kalau Dilanggar...

Sarwendah akhirnya angkat bicara perihal berita bohong atau hoax terkait hubungannya dengan sang anak, Betrand Peto yang akhir-akhir ini ramai diberitakan.

img_title
VIVA.co.id
15 Mei 2024
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut