Premium Lenyap di Jalan, Ulah Siapa?
- VIVAnews/Zahrul Darmawan (Depok)
Bahkan, BPH Migas menemukan bukti kecurangan pada SPBU yang tak mematuhi prosedur penjualan Premium di wilayah Lampung dan Riau. Akibat kenakalan ini bahkan terjadi demo dari masyarakat.
Hendry mengungkapkan atas temuan itu pihaknya juga telah menyampaikan kepada Pertamina untuk mengevaluasi penyaluran Premium di Pekanbaru dan Lampung. Ia pun mengkritik kebijakan Pertamina Pusat dan daerah yang belum sejalan.
"Banyak terjadi kelangkaan (Premium) di daerah, seharusnya apa yang dilaksanakan oleh operasional PT Pertamina di pusat maupun daerah haruslah sejalan," tegasnya.
![]()
SPBU disegel polisi karena melakukan kecurangan.
Hendry menjelaskan, banyaknya permainan di SPBU terhadap BBM Premium di daerah lantaran margin (keuntungan) Premium yang lebih kecil dibanding dengan Pertamax CS. Di mana Premium Rp280 per liter, sedang Pertalite Rp400 per liter.
"Jadi karena margin ini, sebagian penyalur di lokasi tertentu melihat animo masyarakat dialihkan ke Pertalite, dia akhirnya enggak menebus Premium, dia minta saja Pertalite," katanya.
Hal ini menurutnya akan ditindaklanjuti, sebab Premium di luar Jamali harus disediakan oleh Pertamina. Begitu pun penjualan Pertalite dengan harga yang lebih tinggi akan disikapi oleh BPH Migas.
Sedangkan untuk wilayah Jamali, meski tak ada aturan tegas bagi SPBU bisa menjual jenis BBM Premium, BPH Migas tetap meminta Pertamina untuk sediakan Premium khususnya jalur-jalur angkutan kota (angkot).
"Sah-sah saja jika ada SPBU yang tidak menjual Premium di Jawa Madura dan Bali. Hanya saja, untuk jalur-jalur angkot BPH Migas mengimbau Pertamina menyediakan Premium," jelasnya.
Adapun penyaluran Premium tersebut, tambahnya juga merupakan kewajiban bagi SPBU yang memiliki kontrak awal dengan PT Pertamina dalam penyalurannya. Begitu pun halnya dengan SPBU di luar Jamali.
Tetapkan Kuota Minimum
Maraknya kelangkaan Premium di lapangan juga turut menjadi perhatian sejumlah pengamat energi. Salah Satunya adalah Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa.
Ia mengatakan, kelangkaan Premium yang terjadi memang karena sejumlah pemilik SPBU yang lebih mementingkan menjual Pertalite ketimbang Premium. Hal itu juga didukung oleh margin yang lebih tinggi bila menjual Pertamax Cs.