Deadpool 2 Bikin 'Move on' dari Infinity War
- 20th Century Fox
Menurut saya, jokes yang dilontarkan terlalu American issue, sehingga ada saja yang tak bisa menangkap kelucuan di dalamnya. Bisa jadi karena dialog yang dipakai terlalu vulgar sehingga subtitle atau penyulihan ke Bahasa Indonesianya agak sulit melebur. Atau mungkin juga karena penonton tak familiar dengan ragam nama tokoh, karakter, atau judul film yang disebutkan Deadpool saat melucu.
Misal saat adegan Wade Wilson menyilangkan kakinya. Penonton yang tahu Basic Instinct (1992), akan berbeda tawanya dengan mereka yang tak punya bayangan apa-apa tentang film thriller-erotis Hollywood itu sebelumnya. Padahal, adegan menyilangkan kaki tersebut adalah adegan paling ikonik dari film misteri dewasa yang fenomenal tersebut. Sekali lagi, tapi tetap lucu.
![]()
Naskah yang ternyata ditulis juga oleh Ryan Reynolds dan dua penulis lainnya ini, asyiknya, lebih menonjolkan humor dengan isu-isu kekinian yang membuat kamu terbahak-bahak. Tak lupa, shoutout untuk para superhero favorit, baik DC maupun Marvel, mulai dari Batman, Avengers, hingga X-Men ada di sini.
Jika kamu menantikan celetukan Deadpool soal Infinity War, tentu saja kamu tak akan kecewa, apalagi jika menunggu komentar Deadpool untuk Cable soal Thanos, kamu pasti tertawa. Sebagai info, Cable dan Thanos diperankan aktor yang sama, Josh Brolin.Â
Film ini punya dialog humor yang rapat, padat, dan cepat. Maka jika ketinggalan, kelucuannya akan terlewatkan. Tapi jika dibandingkan dengan pertama, tentu saja, film ini jauh lebih lucu dan menghibur.
![]()
Pernah mendengar istilah breaking the fourth wall? Berdasarkan penjelasan dari Urban Dictionary, istilah ini tumbuh dari dunia teater di mana fourth wall atau dinding keempat merupakan sekat imajiner antara penonton dan para pelakon di atas panggung. Mengapa dinding keempat, sebab penonton berada dalam studio yang punya dinding belakang, kanan, dan kiri mereka.Â
Dengan kata lain, breaking the fourth wall, bisa dibilang aksi para pelakon yang meniadakan sekatnya dengan penonton dan kini kerap dipakai dalam istilah film. Mereka seolah bisa berbicara langsung dengan para audiens, meski menyadari bahwa mereka adalah karakter fiksi.