Angin Perdamaian Pertemuan Trump dan Kim Jong un
- REUTERS / Leah Millis
Sebab, menurutnya, Korea Utara tak memiliki kemampuan untuk mengembangkan ekonominya, juga tak mampu menggunakan kekuatan lunaknya. Satu-satunya kekuatan yang dimiliki Korea Utara adalah senjata nuklirnya yang mengancam. Ia melihat, Kim memposisikan KTT ini sebagai sebuah langkah politik, dimana Kim berusaha 'membeli' waktu dan uang untuk benar-benar melakukan apa yang ingin ia lakukan, yaitu menunjukkan kemampuan nuklirnya yang semakin maju dan mengancam.
Alexandra Bell, Direktur Kebijakan Senior di Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi dari kampus yang sama melihat bahwa perbedaan kepentingan antara Trump dan Jong-un berpotensi membuat KTT tersebut tak bergigi. Perbedaan tujuan dan harapan antara kedua pemimpin bisa menjadi masalah.
"Untuk Amerika Serikat, mereka ingin melihat pelurusan semenanjung Korea yang lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat dibalikkan kembali, dan itu adalah sebuah harapan yang sangat tinggi," kata Bell kepada CNBC.
"Bagi Korea Utara, yang mereka inginkan adalah keamanan rezim dan lebih banyak akses ke pasar internasional," katanya menambahkan.
Olli Heinonen, mantan Wakil Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional Amerika Serikat mencemaskan lebih dari sekadar kesepakatan. Menurutnya, kesepakatan denuklirisasi dengan Korea Utara hanyalah setengah perjuangan. Sebab, perjuangan berat berikutnya adalah memaksa Korea Utara untuk tetap patuh dan menjalankan hasil kesepakatan. "Ini memang yang akan menjadi tantangan," ujar Ollie seperti diberitakan oleh CNN.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo berulang kali mengatakan bahwa AS "berkomitmen untuk membongkar secara permanen senjata pemusnah massal Korea Utaram dapat diverifikasi, dan tidak dapat dibatalkan.
"Kami telah menyampaikan kepada Korea Utara harapan kami bahwa mereka akan sepenuhnya transparan," katanya. Ia menambahkan bahwa AS juga harus memastikan kepatuhan akan menjadi pekerjaan bertahun-tahun.
Meski pertemuan Trump dan Kim Jong-un menjadi titik pijak yang sangat penting dalam sejarah dunia, namun ekspektasi untuk hasil maksimal dari pertemuan tersebut masih menjadi tanda tanya. Kim Jong-un telah lama menjalankan perannya sebagai pemimpin yang diktator, dan disebut kerap menggunakan jalan kekerasan untuk mewujudkan ambisinya. Latar belakang itu yang membuat banyak pakar dan analis tak terlalu yakin.