Membawa Tenun ke Ranah Terhormat

Founder dan CEO Toraja Melo
Sumber :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria

Tahun 2012, kami lakukan pameran tenun Toraja pertama di Museum Tekstil, dihadiri Pemda dan Bupati Toraja. Itu gempar di koran-koran. Orang Toraja juga datang, mereka menangis. Sejak itu, bupatinya bilang PNS harus pakai tenun Toraja seminggu sekali. Jadi orang-orang di Toraja, terutama di Toraja Utara itu sekarang sudah pakai tenun. Tidak hanya dipakai penduduk lokal, tapi tenun Toraja juga diminati turis yang mereka beli sebagai suvenir. 

img_title Boyong Kain Tenun Tradisional, 4 Desainer Muda Bali Tampil di Paris

Kami juga menghidupkan beberapa motif yang sudah mati menjadi laku lagi. Kami hubungkan mereka dengan distributor benang dan kami berikan kombinasi warna. Mereka juga mengakui kalau mengikuti warna Toraja Melo, tenunnya lebih laku.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penenun Toraja Melo

img_title Jarum Hijau Pamer Kain Tenun NTB, Busananya Bak Artis Hollywood Liburan!

Beberapa dibilang motifnya sudah mati, maksudnya?

Sudah tidak ada yang menenun dengan motif itu. Jadi saya harus cari kain tua supaya mereka mau mencoba membuatnya lagi, karena mereka tidak bisa bikin lagi kalau tidak pegang kainnya. Mereka harus bisa menghitung, ada rumusnya, tidak bisa cuma kami bilang bikin.

img_title Cantiknya Para Srikandi BUMN Lenggak-lenggok Ikut Trunk Show Sarinah

Kami sangat sulit mencari kain itu dan sudah mahal sekali harganya, karena kain tenun Indonesia termasuk Toraja sudah dibeli oleh kolektor tenun tua. Kalau tidak ada contohnya, tidak bisa dihidupkan kembali motif tenun. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Waktu pameran 2012 saja saya tidak punya koleksi yang cukup untuk dipamerkan di Museum Tekstil. Paling tidak harus ada 100 lembar kain yang paling bagus. Nah kain tenun Toraja yang paling bagus sudah ada di Jepang. Jadi waktu itu ketika saya di Tokyo, saya menemui kolektor, dan memohon dipinjamkan untuk pameran di Museum Tekstil karena kalau tidak ada kain master, kami tidak bisa pameran di sini. 

Dalam negosiasi, kolektor itu minta US$1 juta untuk asuransi. Yang sebetulnya tidak bisa juga, jadi kalau kain itu rusak atau hilang, mau kamu punya US$1 juta, itu kain enggak ada lagi. Akhirnya kami bicara dan dia meminjamkannya tanpa diasuransikan. Tapi saya harus yang bawa dan tidak boleh lepas dari badan saya. Naik pesawat, saya gendong itu kain. Dan waktu pameran, jantung saya mau copot karena sistem keamanan di sini karena kalau dicomot, gimana?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut