Membawa Tenun ke Ranah Terhormat
- VIVA.co.id/Bimo Aria
Orang-orang sekarang menyebut kami social enterprise, terus terang kami enggak pernah menyebut diri kami social enterprise. Jadi 2008 saya mulai, lalu tahun 2010 adik saya, Nina Jusuf (Creative Director Toraja Melo) yang fashion designer dan aktivis gerakan perempuan dengan basis di San Fransisco membantu saya yang tidak tahu soal fesyen. Tahun 2010, kami mendirikan dua yayasan Toraja Melo karena kami harus bekerja untuk komunitas mendapat sumber dana dan kegiatan sosial, lalu membuat PT untuk bisnis karena kami sadar tidak mungkin menunggu sumbangan terus, sehingga kami cari dana sendiri.Â
Kenapa dinamai Toraja Melo?
Karena tadinya kepikiran kerjanya di Toraja saja, jadi Toraja Melo. Itu artinya Toraja indah. Kami ingin bekerja dengan petani dan penenun di Toraja dan memajukan Toraja. Kami enggak tahu kalau sekarang jadi kerja di luar Toraja. Kami juga kerja di Mamasa, Sulawesi Barat karena ada permintaan penenun di sana, kemudian kami bekerja sama dengan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) pada 2014.Â
Tahun lalu, kami mencari di mana organisasi Pekka yang sudah cukup kuat, ada penenunnya tapi sangat miskin dan kantong buruh migran. Itu kami temukan di Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jadi kami bekerja dengan Pekka di Adonara dan Lembata. Totalnya kami ada di empat daerah, Toraja, Mamasa, Adonara dan Lembata, sehingga yang tadinya merek itu terpisah Toraja dan Melo, kami jadikan satu pada 2015, menjadi Toraja Melo.
Waktu itu kondisi tenun seperti apa di Toraja?
Di Toraja penenunnya tua-tua, terus orang Toraja tidak mau pakai tenun Toraja termasuk suami saya. Ditambah waktu itu baru selesai dari zaman Orde Baru di mana semuanya Jawa, harus pakai batik, seakan sentralnya di Jakarta dan Jawa. Jadi orang Toraja kalau ke upacara pakai sarung batik, brokat, tidak ada yang pakai tenun.Â
Selain itu, juga soal gengsi orang Indonesia. Kalau saya berhasil jual tenun di luar negeri dan Jakarta, orang Toraja baru akan sadar. Saya pertama kali jual kain Toraja di Jakarta, bukan di Toraja, lalu ke Jepang. Saya ke pameran di Jepang dari toko ke toko sama suami dan Nina, mengangkut koper dari stasiun ke stasiun, lalu laku banyak banget dan diberitakan. Terus kami ikut pameran demi pameran di Los Angeles, Paris, London, Milan dan pameran dagang dengan Kementerian Perdagangan.Â