Membawa Tenun ke Ranah Terhormat

Founder dan CEO Toraja Melo
Sumber :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria

Sekarang bagaimana kehidupan penenunnya?

img_title Penyelidikan soal Impor Kain Tenun dari Benang Filamen Artifisial Disetop, Ini Hasilnya

Melahirkan harga diri, dan menjadi kebanggaan karena mereka punya kebebasan ekonomi. Saya terus terang enggak mikir begitu, saya mikir mereka dapat penghasilan lebih teratur yang memang bukan penghasilan satu-satunya karena mereka juga punya sawah, mereka punya babi dan kerbau untuk dijual. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ini membuat harga diri mereka kembali karena kebanyakan juga ada yang kerja merantau jadi pembantu, pekerja seks atau lainnya, tapi kalau menenun, mereka bisa tinggal dengan keluarga, harga diri mereka kembali. Itu sesuai dengan social enterprise. Bahkan di Toraja, banyak TKW yang akhirnya pulang untuk menenun.

img_title Kartini Fest 2025 di Peninsula Island, Hadirkan 30 Finalis Miss Universe Asia Berbalut Kain Tenun Endek Bali

Penenun saat ini usianya berapa?

Dulu tua-tua, sekarang anak umur 12 tahun sudah bisa menenun. Tadinya malu, sekarang mereka bangga. Ada yang membiayai sekolah dengan menenun sampai diundang untuk bicara ke Jakarta, sehingga banyak anak-anak yang tertarik ikutan menenun. Itu prestige buat mereka.

img_title Jangan Terkecoh! Begini Cara Bedakan Tenun yang Pakai Pewarna Alami dan Sintetis

Apakah tidak muncul anggapan mengeksploitasi anak?

Ada komentar seperti itu tapi jawabnya cukup mudah walaupun kadang marah juga. This is part of the culture, kami bukan memperbudak anak-anak, dan kami tidak menyuruh tapi anak-anaknya minta. Mereka melihat tantenya dan mamanya menenun, lalu ingin juga dan mereka mengerjakannya sesuka mereka. Karena tenun itu seperti bahasa, mereka harus belajar dari kecil, tidak bisa tiba-tiba, kalau sudah umur 25 tahun baru menenun itu susah. Jadi itu salah satu melawan pola berpikir begitu, ini budaya kok. 

Penenun Toraja Melo

Bagaimana menyeimbangkan kesejahteraan penenun sekaligus menjalankan bisnis?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Itu berat sekali, dalam arti waktu awal kami harus membeli tenun selama mereka latihan, kami bayar terus. Dan orang Indonesia ada yang bilang tenun kenapa mahal, padahal buatan Indonesia. 

Akhirnya kami harus tetap bekerja dengan partner di Singapura. Mereka mengubah pandangan pasar untuk menjadi conscious consumer atau konsumer yang punya kesadaran. Jadi kalau ada Toraja Melo di sebelah Zara, dan Toraja Melo lebih mahal, mereka akan tetap milih Toraja Melo karena di belakangnya ada cerita dan bukan pabrikan. Termasuk pameran ini untuk memperlihatkan ada tenun macam-macam dan itu kekuatan Indonesia. Yang membedakan negeri ini dengan negara lain, ya kekayaan alamnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut