Pemilu 2019, Efek Ekor Jas dan Kuburan Parpol
- ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Baca: PDIP Vs Gerindra Diramal Bersaing Ketat di Pileg 2019
Mesin parpol selama kampanye menjadi salah satu kunci parpol untuk menarik suara pemilih. Menurut Adi, berbeda dengan parpol yang sudah punya mesin partai dan pemilih loyal seperti Golkar. Partai berlogo Pohon Beringin ini diprediksi tetap lolos meski tanpa kecipratan coattail effect dari Jokowi.
"Golkar itu karena mesin politik dan pemilih tradisionalnya sangat solid, bukan karena berkah efek ekor jas," tutur Adi.
Kuburan Parpol
Ilustrasi pemilih saat pencoblosan
Ambang batas kelolosan parlemen dengan 4 persen cukup berat. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Pemilu 2014 yang hanya 3,5 persen. Angka kelolosan yang cukup berat ini diprediksi akan menjadi kuburan bagi parpol yang tak solid. Hal ini juga berlaku bagi parpol lama yang ikut mengusung capres-cawapres.
"Memang cukup berat dan berpotensi jadi kuburan bagi partai lama yang tak solid. Ditambah lagi sistem pemilu serentak membuat partai lama khawatir bisa lolos Senayan atau tidak," kata Adi.
Adi melihat Pemilu 2019 harus menjadi pilihan bagi parpol yang tak punya tokoh sebagai capres atau cawapres. Bila fokus bantu koalisi parpol di pilpres maka suara di pileg bisa anjlok.
Baca: Berkat Prabowo, Gerindra Diprediksi Tendang Golkar di Pileg 2019
Parpol lama harus bisa memainkan strategi agar tak latah maksimal di pilpres. Untuk partai seperti Demokrat, PKB, Nasdem, PKS, dan PAN diprediksi bisa lolos. Namun, angkanya diprediksi tak signifikan dari angka 4 persen.
"Partai lama seperti Hanura, PPP potensial ambruk di pileg di tengah keruwetan sistem kompetisi yang sangat terbuka. Belum lagi konflik internal mereka akan mempengaruhi soliditas suara," jelas Adi.
Ilustrasi SBY dan elite Partai Demokrat.
Elite partai pun bersuara. Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon menekankan syarat ambang batas lolos 4 persen dengan sistem pemilu serentak menjadi ujian setiap parpol. Ujian ini berlaku bagi parpol yang tak punya figur capres atau cawapres.
Bagi dia, bila Demokrat lebih fokus di pileg dibanding pilpres menjadi kewajaran. Karena bila maksimal di pilpres namun kendor di pileg akan berujung negatif bagi Demokrat.