Geliat Ekonomi Kreatif Dunia
- ANTARA FOTO/Ayu Restika Sari
Jadi tantangan di negara maju dan berkembang adalah eksklusivitas dalam industri kreatif. Jika Anda melihat Inggris, orang yang bekerja di industri kreatif umumnya adalah mereka dari latar belakang kelas menengah terbuka, berkulit putih dan berjenis kelamin laki-laki. Ya, di Inggris, laki-laki lebih mungkin mendapatkan pekerjaan di industri kreatif daripada wanita. Jadi eksklusivitas sosial adalah masalah besar dalam industri kreatif.
Bagaimana kita memperluas partisipasi masyarakat dalam industri kreatif, terlepas dari kelas, ras serta gender? Salah satu kebijakan utama yang harus ditetapkan pemerintah adalah menyediakan saluran yang memungkinkan partisipasi masyarakat yang lebih luas. Karena hanya ketika semua orang memiliki pengetahuan yang benar, kita akan melihat industri kreatif dan ekonomi kreatif yang berkembang.
Menurut Anda, apakah ekonomi kreatif bisa berkelanjutan?
Saya pikir keberlanjutan ekonomi kreatif adalah sebuah tantangan. Ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab bagi banyak negara. Bukan hanya negara berkembang, tapi juga negara maju. Kita melihat industri kreatif semakin dilibas oleh perusahaan besar, perusahaan yang lebih banyak modal. Perusahaan kecil dalam industri kreatif juga biasanya tidak memiliki model bisnis yang tepat. Jadi apa model bisnis yang kreatif? Ini berdasarkan pada ide. Tetapi bisakah perusahaan kecil terus menerus muncul dengan ide-ide baru?
Bagaimana Anda mempertahankan bisnis yang tidak dapat bertahan lama? Saya pikir sebagian besar perusahaan akan gagal dalam 5 tahun pertama. Tingkat kegagalannya juga sangat tinggi. Jadi bagaimana cara mengatasi masalah itu? Saya pikir kita perlu lebih banyak waktu dan kesabaran. Saya beri contoh, saya memberi Anda Rp20 juta sehingga Anda bisa menghasilkan Rp40 juta di tahun depan. Itu tidak akan terjadi
Jadi, untuk mengembangkan ekonomi berkelanjutan, Anda harus memberi mereka waktu untuk bereksperimen tentang ide-ide, membiarkan mereka memiliki kesempatan untuk gagal, untuk dapat menolong mereka ketika mereka berada dalam masa-masa sulit.
Yang kedua, saya pikir sangat penting untuk melihat nilai-nilai di luar indra ekonomi murni. Jadi tidak melulu soal jumlah karyawan, pendapatan, dan GDP (Gross Domestic Product). Ada hal lain yang berkontribusi. Mereka berkontribusi pada ekosistem yang lebih luas.