Geliat Ekonomi Kreatif Dunia
- ANTARA FOTO/Ayu Restika Sari
Sebagai contohnya, saya seorang produsen pakaian. Saya mungkin tidak menghasilkan banyak uang dari toko saya yang menjual pakaian. Tetapi dengan adanya toko saya yang berada di pusat kota, saya telah menarik jenis bisnis lain untuk turut berada di ekosistem urban. Jadi nilai industri kreatif jauh melampaui dari sekadar menghasilkan uang dan membuat kesepakatan. Ini sebenarnya tentang berkontribusi pada ekosistem urban.
Jadi tantangannya adalah bagaimana menghasilkan sistem yang tepat sehingga kita benar-benar dapat memberikan nilai ekonomi kreatif tersebut, kita dapat mengevaluasi bahwa nilai-nilai itu berada di luar pengukuran ekonomi.
![]()
Apakah ekonomi kreatif di Indonesia berkembang karena kelas menengahnya juga berkembang?
Itu selalu menjadi tanda. Ketika kelas menengah di suatu negara berkembang. Ketika disposable income meningkat dalam rata-rata pendapatan domestik, maka Anda akan mulai mencari ke arah konsumsi budaya. Jadi industri kreatif mulai menjadi agenda dalam debat kebijakan sebagai hasilnya. Saya rasa itu indikasi yang sangat jelas bahwa Indonesia siap untuk itu. Anda tahu Anda tidak dapat mengembangkan ekonomi kreatif di negara di mana disposable income-nya sangat rendah. Jadi itu tidak akan bertahan.
Dan itulah mengapa di China, misalnya, hanya ada beberapa kota yang benar-benar dapat mempertahankan ekonomi kreatif di kota mereka, seperti Shanghai dan Beijing. Tetapi di luar kota-kota east coast utama, mereka tidak dapat memiliki industri kreatif. Mereka mencoba, mereka menginvestasikan banyak uang, tapi industri kreatif mereka tidak dapat berkembang. Jadi selama ini hanya bisa terjadi di kota padat penduduk dan Anda harus memiliki pasar yang cukup besar. Jadi berkembangnya kelas menengah adalah indikator kunci dalam perkembangan sektor ekonomi kreatif.
Namun, di sini platform digital mengubah permainan. Jika Anda tidak memiliki pasar yang cukup besar, Anda dapat mengembangkan ekonomi kreatif melalui pasar digital. Anda tidak harus bergantung pada konsumsi lokal. Hal yang membuat China begitu tertutup adalah karena konsumsi budaya mereka sangat fokus terhadap produk domestik. Tetapi jika Indonesia benar-benar dapat fokus pada pengembangan platform budaya global untuk distribusi, membuka saluran distribusi untuk produsen lokal, maka Anda bisa melihat industri kreatif ini muncul dan berkembang di kota yang tidak memiliki kelas menengah yang sedang berkembang.