Memapankan Identitas Musik Klasik Indonesia
- VIVA/M Ali Wafa
Orang Jerman punya Beethoven, orang Austria punya Mozart, orang Indonesia punya siapa? Itu yang membuka mata saya, oh ternyata kita enggak punya apa-apa pada saat itu.
Mendokumentasikan Musik Rakyat
Jadi musik klasik apa yang ingin ditawarkan dari Indonesia?
Saya bikin karya-karya Rapsodia Nusantara. Itu karya-karya yang bisa ditampilkan di konser yang menunjukkan kematangan teknik yang tinggi dari pianis tapi berdasarkan dari lagu daerah Indonesia. Jadi musiknya sangat klasik, tapi gayanya tetap Indonesia. Sampai sekarang sudah bikin 24 dan sekarang lagi bikin yang ke-25. Â
Yang 25 saat ini, saya lagi bikin lagu rakyat dari Belitung, yang untungnya ada YouTube, jadi enggak perlu ke sana. Yang pertama dari Jakarta, ada juga dari Ambon, Papua, Batak, Aceh, Lampung dan lainnya. Saya cita-citanya minimal bikin Rapsodia Nusantara sebanyak 34 karena ada 34 provinsi di Indonesia. Sampai sekarang baru 24,5 (24 Rapsodia dan Rapsodia 25 masih dalam proses). Saya mulai tahun 2005, sekarang sudah 13 tahun. Itu saya bikin di sela-sela saya bikin opera, orkes. Â
Sebetulnya cita-cita saya karena sudah 50 tahun, saya ingin explore, jalan ke banyak daerah di Indonesia untuk mendokumentasi musik-musik rakyat yang tidak terkenal. Kalau Ampar-ampar Pisang dan Yamko Rambe Yamko sudah pada tahu. Tapi banyak hal yang belum terdokumentasi, saya ingin datang ke daerah-daerah, tinggal dengan suku-suku lokal untuk mendengarkan musik rakyat mereka.
Saya ingin kasih contoh, jadi waktu gempa bumi di Palu, saya mau bikin sesuatu untuk orang Palu. Kemudian saya nyari-nyari di Google, dan di sana ada suku Kaili. Kemudian saya ingin tahu suku Kaili itu musiknya seperti apa, kemudian saya cari tapi ternyata enggak ada di internet. Jadi saya email ke teman-teman yang suka musik etnik, terus mereka bilang, ada pastur misionaris orang Jerman pernah ke suku Kaili dan menulis melodi itu, dan tulisannya terdokumentasi di salah satu seminari di Yogya. Â
Jadi saya menemukan melodi yang sama sekali saya belum pernah dengar dan banyak orang belum pernah dengar, dan itu bagus banget. Kemudian saya bikin musik yang saya beri nama Two Folks Songs from Kaili, lalu saya harmonisasi dan saya bikin. Hal seperti itu yang saya ingin kerjain karena saya melihat banyak lagu daerah yang bagus, yang sangat mencerminkan nilai budaya kita, tapi hampir punah dan bahkan sudah punah.