Memapankan Identitas Musik Klasik Indonesia
- VIVA/M Ali Wafa
Kalau ada yang bilang budaya timur harus ditutup semua, kita lihat lukisan Bali dari zaman dahulu itu dada perempuannya terbuka. Tidak apa-apa kita belajar dari budaya Barat, mau dari Amerika, Eropa, Arab untuk memperkaya budaya. Tapi kita enggak boleh kehilangan identitas kita. Budaya apapun enggak boleh menggantikan budaya kita.
Di karya saya, di Rapsodia Nusantara 1 dan Rapsodia Nusantara 2 itu jelas beda, karena berasal dari lagu daerah yang berbeda. Pianonya sama, instrumennya sama, tapi ada satu hal yang menyatukan bahwa sebetulnya keseragaman sendiri itu adalah keberagaman.
Anda lebih suka menyebut musik klasik sebagai musik sastra, bisa dijelaskan?
Musik sastra itu artinya musik yang tertulis, ada partiturnya. Jadi itu mudah untuk dimainkan orang lain karena ada partiturnya, seperti Mozart, Beethoven, itu mudah dibaca dan dimainkan oleh pianis di mana pun, bahkan ketika komponisnya sudah meninggal sekalipun. Â
Seharusnya semua musikus bisa baca not, di Indonesia kan masih banyak musikus yang belum bisa baca not. Kalau di Eropa, anyway di Spanyol (Ananda juga tinggal di Spanyol), anak SD diwajibkan baca not karena itu bagian pendidikan dasar.
Anda mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia, apa tujuannya?
Itu untuk memberi pendidikan musik gratis ke anak-anak yang tidak mampu. Jadi kita selalu cari donatur untuk instrumen. Kalau ada yang punya instrumen bekas atau tidak terpakai yang mau didonasikan, nanti kita betulin dan nanti kita pinjamkan kepada anak-anak yang tidak mampu. Jadi selain diajarin main instrumen, juga diajarin baca not, mereka juga harus punya tanggung jawab merawat instrumen itu. Â
Kalau dalam 6 bulan tidak ada kemajuan atau instrumen itu tidak dirawat, kita enggak terusin. Ini bukan hanya pendidikan soal musik, tapi juga soal tanggung jawab dan soal bagaimana menghargai perbedaan karena anak datang dari berbagai agama dan berbagai suku, begitu di sini mereka main bersama-sama dan mereka lihat perbedaan itu justru indah, instrumen berbeda justru indah, kalau instrumen yang sama justru membosankan. Lewat musik mereka jadi akrab, dan akhirnya meruntuhkan tembok perbedaan.