Prahara PSSI, KLB Bisakah Jadi Solusi?
- ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Erick berpengalaman dalam sepakbola. Beberapa klub sempat dipimpin olehnya.
Tak main-main, Erick memimpin klub luar negeri macam DC United hingga Inter Milan. Fakta inilah yang membuat Erick dijagokan sebagai Ketua Umum PSSI.
Namun, Erick punya pendapat tersendiri mengenai suara dari publik yang menginginkannya jadi Ketua Umum PSSI.
![]()
Pengusaha 48 tahun tersebut masih ingin fokus menyelesaikan tugasnya sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
"Tugas saya di Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin hingga April 2019. Jadi, saya fokus dulu," kata Erick saat mengunjungi redaksi VIVA.
"Kalau diberikan kepercayaan untuk menjalankan kompetisi, seperti yang sudah saya bilang, ayo. Tapi, soal jadi Ketum, saya tak mau ambisius. Biarkan dulu berjalan organisasinya. Kongres Luar Biasa kan belum ada," lanjutnya.
Selain Erick, muncul nama lain. Krishna Murti yang menjabat sebagai Wakil Satuan Tugas Antimafia Bola masuk sebagai kandidat.
Anggota Exco PSSI, Refrizal, menuturkan saat ini pihaknya masih menampung berbagai nama yang berminat jadi Ketua Umum, sambil menunggu Komite Pemilihan dan Banding Pemilihan dibentuk lewat Kongres Luar Biasa.
"Yang berminat kami tampung. Seperti Erick Thohir, Krishna Murti. Pokoknya yang minat kami tampung dulu. Nanti biar yang berhak yang memilih," tutur Refrizal.
Jalan Terbaik?
Situasi politik sepakbola nasional tak kunjung stabil sejak 2010. Usai Nurdin Halid digulingkan, banyak gejolak yang terjadi di sepakbola nasional.
Dualisme kepengurusan, konflik PSSI dengan Kemenpora, hingga diterpanya isu pengaturan skor yang membuat posisi Joko terdesak.
Berbagai gangguan yang terjadi dalam setiap kepengurusan, membuat stabilitas program di PSSI sulit berjalan. Reformasi? Layaknya utopia dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir.
Ya, butuh kestabilan dalam politik organisasi di PSSI agar program dalam pengembangan sepakbola nasional bisa berjalan.
Tapi, di Indonesia, yang terjadi malah stabilitas tak terbentuk. Sejak 2010, kepengurusan di PSSI sering berakhir lebih cepat.
Djohar Arifin memang bisa menyelesaikan masa kepengurusannya. Tapi, dia diganggu oleh isu dualisme.
Kemudian, penerusnya, La Nyalla Mattalitti, tak mendapat kesempatan untuk mengurus PSSI dalam waktu lama. Sebab, PSSI di masanya dibekukan oleh Kemenpora, tepat sehari setelah dia terpilih lewat Kongres di Surabaya.