Waspada Cuaca Ekstrem di Penghujung Musim

Tim SAR Gabungan mendorong perahu karet yang memuat jenazah korban banjir bandang Sentani yang di temukan di sekitar perumahan Gajah Mada di Sentani, Jaya Pura, Papua, Selasa, 19 Maret 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Kendati Topan Savannah telah menjauh dan mulai berkurang pengaruhnya di Jawa, Dwikorita mengimbau masyarakat tetap waspada karena cuaca ekstrem masih akan terjadi selama beberapa hari ke depan.

img_title Korban Tewas Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-China 1.403 Orang, 6.150 Masih Hilang

"Pada Minggu, curah hujan di DIY mencapai 148 mm. Sementara curah hujan disebut ekstrem jika mencapai 50 mm per hari. Ini (curah hujan di Minggu) tiga kalinya," ujar Dwikorita saat meninjau lokasi tanah longsor di Imogiri, Senin 18 Maret 2019.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait longsor yang terjadi di Bantul dan wilayah lain di DIY, mantan Rektor UGM ini menyebut kondisi perbukitan di Imogiri memang rapuh dan memiliki tingkat kemiringan yang tegak. Sehingga saat hujan dengan intensitas tinggi bisa memicu terjadinya longsor.

img_title Tanah Longsor Terjang Aceh Tengah: Bocah 9 Tahun Meninggal Dunia, 13 Warga Luka-luka

"Pertanyaannya, kapan akan terjadinya longsor? Menunggu pemicu. Pemicunya apa? Antara lain curah hujan yang ekstrem. Bisa juga pemicunya gempa bumi atau getaran. Sehingga kalau ditanya kapan longsornya ya tinggal menunggu turunnya hujan yang ekstrem atau terjadinya getaran seperti itu," ujar profesor di bidang Geologi ini.

Sementara itu, terkait penyebab banjir bandang yang terjadi di Sentani, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menduganya akibat longsor di bagian hulu, yang kemudian  menerjang bagian hilir.

img_title Banjir Bandang Tibet Picu Sorotan, Warga Disebut Dihukum karena Sebarkan Angka Korban

"Sebab karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami," kata Sutopo kepada awak media di kantor BNPN, Jakarta Timur, Minggu, 17 Maret 2019.  

Sutopo menambahkan, lantaran volume air terus tambah, air kemudian menjadi meluap dan turun ke dataran bawah yang merupakan kawasan permukiman. Banjir jadi sangat bahaya karena bersamaan dengan itu membawa material kayu dan batu-batu yang menerjang rumah warga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendungan alami ini jebol dan menerjang bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar," kata Sutopo.

Lebih jauh, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, IB Putera Parthama mengatakan faktor utama penyebab bencana banjir bandang di Sentani adalah curah hujan yang tinggi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut