Waspada Cuaca Ekstrem di Penghujung Musim

Tim SAR Gabungan mendorong perahu karet yang memuat jenazah korban banjir bandang Sentani yang di temukan di sekitar perumahan Gajah Mada di Sentani, Jaya Pura, Papua, Selasa, 19 Maret 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Menurut data yang dihimpun KLHK, curah hujan sangat tinggi terjadi di wilayah Sentani, Jayapura sebelum terjadi banjir bandang pada Sabtu. Hujan lebat dalam intensitas lama turun mulai pukul 19.00 sampai dengan 23.30 WIT.

img_title Korban Tewas Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-China Jadi 1.280 Orang, 5.260 Masih Hilang

"Data menunjukkan bahwa debit air di wilayah Sentani pada malam tersebut melebihi kondisi normal mencapai 193,21 m3/detik yang menyebabkan debit aliran tinggi. Sementara itu, mulut sungai terhitung kecil dengan kapasitas tampung yang rendah yaitu hanya 91,38 m3/detik," kata Putera saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 19 Maret 2019.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, faktor lain yang menyebabkan bencana banjir bandang Sentani adalah kondisi hulu DAS yang tidak stabil. Hulu DAS tersebut memiliki kontur batuan yang kedap air sehingga membentuk bendung alami yang mudah jebol pada saat hujan tinggi.

img_title Korban Tewas Banjir Bandang dan Longsor di Nepal Jadi 1.204 Orang

"Adanya perluasan kota dan permukiman di bagian hilir (daerah terdampak) turut memberikan dampak yang cukup signifikan," ungkapnya.

Beberapa lokasi terdampak dari musibah banjir tersebut meliputi Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram, Sentani dan sekitarnya. Lokasi-lokasi tersebut merupakan dataran banjir (flood plain) dan berada di lereng kaki perbukitan yang terjal.

img_title China Disebut Batasi Informasi Banjir Bandang di Tibet, Ratusan Orang Masih Hilang

Menurut Putera, faktor tutupan hutan di DAS Sentani terhitung baik, berkisar 55 persen dari total area DAS. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pohon yang tercabut dari akarnya, serta adanya longsor pada area hulu DTA.

Di sekitar banjir bandang, tambah Putera, juga tidak ditemukan adanya pembalakan liar. Hal tersebut dapat dipastikan karena tidak ditemukan material kayu bekas tebangan yang hanyut terbawa banjir.
 
"Pohon-pohon tersebut masih lengkap dengan ranting dan akar-akarnya, hal ini menunjukkan bahwa kayu-kayu tersebut bukan hasil kegiatan penebangan kayu yang menyebabkan banjir bandang," ujarnya.

Tanggap Darurat

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengingat besarnya dampak yang terjadi akibat banjir bandang Sentani, Jayapura, Pemerintah Provinsi Papua telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk penanganan musibah banjir. Masa tanggap darurat itu terhitung sejak Senin, 17 Maret 2019.

Sutopo menerangkan status tanggap darurat diambil atas pertimbangan musibah banjir bandang yang berdampak pada sembilan kelurahan di sekitar Sentani, Jayapura, Papua. 6.831 orang mengungsi akibat banjir bandang tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut