Meredam Polarisasi di Pilpres 2019
- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
VIVA – Sepekan menjelang tahapan pemungutan suara Pilpres 2019, tensi politik diprediksi memanas. Dua kubu yang bersaing pun, diminta bisa meredam tensi dengan memberikan imbauan positif kepada pendukungnya.
Rangkaian peristiwa di daerah, menjadi tolok ukur memanasnya tensi mendekati hari pencoblosan. Contohnya di Purworejo, Jawa Tengah, terjadi peristiwa pengeroyokan pada Selasa 2 April 2019. Seorang pria berkaus capres petahana Joko Widodo menjadi korban pengeroyokan massa yang diduga pendukung capres penantang Prabowo Subianto.
Perbedaan pilihan capres kembali terlihat dengan aksi massa simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menyerang markas Front Pembela Islam (FPI) Sleman, Yogyakarta, Minggu 7 April 2019.
Markas FPI Sleman ini, ternyata juga sebagai Posko Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Publik juga tak lupa dengan kejadian pilu pada November 2018 di Sampang, Madura. Peristiwa seorang tewas ditembak pelaku yang kabarnya, karena hanya beda pilihan capres di media sosial.
Baca: Sempat Saling Serang, Jokowi dan Prabowo Janji Jaga Persahabatan
Pengamat politik, Ujang Komarudin menganalisis polarisasi di Pilpres 2019, sudah terbelah sejak perhelatan Pilpres 2014. Alasannya, pilpres kali ini merupakan rematch Jokowi vs Prabowo.
Polarisasi ini, menurutnya, terjadi karena elite politik yang mengompori massa pendukungnya. Kerap kali, selama tahapan kampanye ini masyarakat disuguhi elite dengan isu yang menyerang dan menyudutkan lawan politiknnya. Cara ini harus coba diredam.
"Membangun kesadaran di tingkat elite dan masyarakat. Bahwa pilpres itu bukan untuk permusuhan. Pilpres itu ritual demokrasi lima tahun dan harus diselenggarakan dengan menyenangkan," kata Ujang kepada VIVA, Senin 8 April 2019.
Hal senada disampaikan Guru Besar Sosiolog Universitas Brawijaya, Darsono Wisadirana. Ia menyampaikan, pentingnya pernyataan adem dan sejuk oleh dua kubu elite.
Menurutnya, sikap elite politik harus menjadi contoh untuk pendukungnya dan masyarakat. Perhelatan pilpres harus menjadi ajang kesempatan pendidikan politik ke masyarakat. "Kurangi yang heboh negatif, perbanyak positif. Sulit mungkin itu jadi tantangan, demi semua," ujar Darsono.
Berikutnya, Capres Beri Contoh
Capres Beri Contoh
Hitungan tujuh hari lagi untuk pencoblosan Pilpres 2019, harus menjadi perhatian. Pilpres 2019, menjadi rangkaian perhelatan Pemilu 2019, yang digelar serentak dengan pileg pada 17 April 2019.